Bandar Lampung

Usulan Pembubaran Stafsus Terus Menggelinding

Avatar photo
22
×

Usulan Pembubaran Stafsus Terus Menggelinding

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung,TintaInformasi.com—Usulan pembubaran staf khusus Walikota Bandarlampung terus menggelinding. Setelah Alzier Dianis Thabranie melontarkan usulan itu, kini dukungan terus mengalir dari sejumlah tokoh.

Ketua Dewan Penasehat Keluarga Besar Batang Sembilan Provinsi Lampung Darussalam juga sependapat dengan pembubaran itu. “Jika memang tak efektif, bubarkan saja,” tegasnya.

Namun dia minta Walikota Bandarlampung Eva Dwiana melakukan evaluasi total dulu. Setelah itu, bisa saja 20 persen dipertahankan. Mereka stafsus yang berkinerja baik.

Pemkot Bandarlampung saat ini sedang kesulitan finansial. Sudah tepat jika stafsus dibubarkan. Jumlah stafsus sekitar 60 orang. Kabarnya, setiap bulan mereka mendapatkan gaji sekitar Rp 7 juta. Di sisi lain, tunjangan kinerja ASN belum terbayarkan.

Dukungan pembubaran juga datang dari Advokat Peradi Lampung Hengki Irawan. Munculnya stafsus ini berawal dari politik balas Budi. Para stafsus ini adalah tim sukses saat pilkada. Untuk membayar jasa politik, dicari akal-lah dengan cara pemberian jabatan stafsus. Mereka bisa ongkang-ongkang, tiap bulan tetap dapat gaji.

Hengki juga minta transparansi Walikota. Misalnya terkait kriteria dan latar belakang seseorang bisa diangkat sebagai stafsus. Sehingga masyarakat bisa menilai. Jangan sampai stafsus yang diangkat terkesan tidak jelas latar belakang keilmuan dan tupoksinya.

“Sebab, sekali lagi mereka itu nantinya dibayar dan digaji dari uang rakyat. Jangan sampai ada kesan uang rakyat dihambur-hamburkan dan menjadi bancakan,” papar Hengki.

Di sisi lain, Alzier sendiri tidak begitu risau dengan besaran gaji stafsus. Namun yang bikin Alzier greget adalah kebanyakan stafsus yang cuma bisa ngecap. Tapi realitasnya banjir misalnya, masih tetap ada di Bandarlampung.

“Coba dong jangan cuma nyalah-nyalahin walikota terdahulu. Bantu Ibu Eva Dwiana, biar sukses berhasil. Cari jalan dong bagaimana supaya tidak ada banjir. Jangan ngecap-ngecap ngalor ngidul soal rembesan air bukit dekat SMAN 2 Bandarlampung,” sindir Alzier.

Sementara itu sejumlah stafsus kepada bensor.co.id kebakaran jenggot. Mereka membantah mereka tak bekerja. Justru sebaliknya, mereka menyayangkan mengapa urusan ini diangkat ke publik. Apalagi gaji yang mereka terima juga tidak besar.

Nizwar Affandi, salah satu stafsus telah menyampaikan masukannya terkait banjir ke publik. Menurutnya biang keladi banjir di Bandarlampung adalah kebijakan ngawur para walikota terdahulu.

Walikota Eva Dwiana hingga kini belum bereaksi. Ketika dihubungi via WA oleh be1lampung.com hanya centang biru. Tetapi belum dibalas. Sepertinya Bunda Eva berhati-hati. Tak ingin menyakiti tim suksesnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *