Lampung Tengah

Mukadam : Gamelan/Talo Adat Lampung Sebagai Kado Akhir Tahun Pemda Lampung Tengah di Kampung Tua Mataram Ilir

Avatar photo
39
×

Mukadam : Gamelan/Talo Adat Lampung Sebagai Kado Akhir Tahun Pemda Lampung Tengah di Kampung Tua Mataram Ilir

Sebarkan artikel ini

TintaInformasi.com, Lampung Tengah —Politisi muda partai gerindra sekaligus ketua komisi IV dprd lamteng mukadam dalam sambutan di kediamannya dusun 1 kampung tua mataram ilir kecamatan seputih surabaya, menyampaikan kepada tokoh adat, tokoh masyarakta beserta tokoh pemuda di akhir tahun ini kita mendapatkan kado istimewa dari pemerintah daerah yang masyarakat usulkan melalui saya sebagai perwakilan dari tokot adat/masyarakat yang duduk di dprd lamteng untuk memperhatikan alat musik adat lampung gamelan/talo bisa kita realisasikan akhir tahun ini.

Alhamdullihah hari ini saya bersama dinas pendidikan dan kebudayaan beserta rombongan hadir di sini kadis bapak syarif kusen, beserta rombongan di tengah masyarakat adat bandar mataram di mataram ilir menyerahkan bantuan gamelan/talo alat musik adat lampung yang di mainkan pada saat prosesi adat lampung seperti cangget agung atau resepsi acara saat pengambilan gelar adat lampung, ujarnya.

Saya berharap nantinya alat musik gamelan/talo ini bisa bermanfaat untuk masyarakat adat kampung mataram ilir sebagai upaya menjaga kelestarian adat dan budaya lampung. Anak-anak muda bisa belajar sebagai kegiatan sore hari.

Syarif kusen selaku kadis pendidikan dan kebudayaan menyampaikan salam hangat dari Bupati Hi. Musa Ahmad yang telah di beri Gelar Adat Di Kampung Tua Mataran Ilir (Suttan Rajau Lampung) keluarga besar dari bapak Mukadam Gelar Suttan Ratu Migo untuk masyarakat Adat Bandar Mataram di Mataram Ilir, bahwa kegiatan hibah gamelan/talo adat lampung merupakan usulan dan aspirasi dari bapak mukadam sebagai tokoh adat lampung yang berasal dari kampung tua mataram ilir merupakan kegiatan yang sangat inovasi dalam melestarikan dan budaya lampung dalam menangkal masuknya budaya luar yang bisa membuat pemuda/i tidak mengenal budaya sendiri sebagai budaya bangsa. Tutupnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *