Lampung Selatan

“Terkait Tudingan Pungli BPNT di Kertosari” Ini Klarifikasi KPM Bu Ngatinem

Avatar photo
24
×

“Terkait Tudingan Pungli BPNT di Kertosari” Ini Klarifikasi KPM Bu Ngatinem

Sebarkan artikel ini

TINTAINFORMASI.COM, LAMPUNG SELATAN – Warga Dusun Umbul Asem Desa Kertosari kecamatan Tanjung Sari, Ngatinem mengklarifikasi adanya surat pernyataan dirinya yang digunakan sebagai laporan di Polres Lampung Selatan terkait dugaan Pungutan Bansos BPNT oleh Aparatur Desa Kertosari.

Menurut Ngatinem, dirinya sama sekali tidak mengetahui apa tujuan tanda tangan dirinya yang diminta oleh kedua orang yang tidak ia kenal pada saat bertemu di kediaman Ibu Robi belum lama ini.

Ngatinem mengaku, saat ini ia merasa tidak tenang dan dihantui rasa ketakutan dengan adanya laporan oleh oknum LSM ke Polres Lampung Selatan yang menggunakan tanda tangan dirinya.

“Iya Pak saya bingung kok tanda tangan saya dijadikan untuk laporan ke polisi oleh kedua orang yang pernah ketemu di rumah bu Robi, “tegas Ngatimen Kamis 29/12/2022 lalu.

Selain itu, jelas Ngatinem, tetangganya yang bernama Supiyati juga saat ini sampai sakit, darah tinggi dan Diabetes nya kambuh, itu dikarenakan Supiyati mendengar tanda tangannya juga digunakan sebagai laporan ke Polisi.

“Itu bu Supiyati sampai sakit, ya karena pikiran pak. Padahal Supiyati itu katanya tidak tanda tangan, mungkin hanya diwakili, “jelasnya.

Lebih lanjut Ngatinem menuturkan, pada awalnya dirinya tidak tahu apa tujuan Bu Robi mengajak dirinya untuk bertemu dengan kedua orang tamu yang ada di rumah Bu Robi.

“Awalnya, pada hari itu saya sedang mencuci di rumah saya. Tak lama Robi datang mengajak saya ke rumahnya, katanya mau kumpulan, ” Tuturnya.

“Sampai di rumah Robi, saya bingung, katanya mau kumpulan sembako tapi yang ada hanya Wiwik, Robi, Supiyati, pariyem (ibunya Robi.red), wadiyah dan dua laki laki yang saya tidak kenal. Padahal Robi dan Wiwik bukan KPM. Setelah saya di tanya tanya oleh tamunya Robi lalu saya di suruh mengambil KTP setelah itu saya di suruh tanda tangan. Awalnya saya tidak mau, saya takut nanti jadi masalah, tapi jawab laki laki itu tidak usa takut. Begitu juga kata Robi dan Wiwik, tidak usa takut karena mereka berdua juga tanda tangan, ” Ungkap Ngatinem.

Ditegaskan oleh Ngatinem, sebelum pembagian bantuan sembako dirinya didatangi oleh Ketua RT untuk meminta sumbangan pengajian Akbar di desa Kertosari.

“Saya ngasi sumbangan untuk pengajian Rp. 15.000 itu sebelum pembagian sembako. Dan itu menggunakan uang hasil saya kerja bukan dari bantuan sembako, la wong saat itu belum pembagian sembako Pak, ” Tutupnya.

Sementara, Kepala Dusun V Umbul Asem, Asnari menegaskan, warganya yang bernama Robi dan Wiwik bukanlah sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

“Kalau yang namanya Robi dan Wiwik itu mereka berdua sampai hari ini bukan sebagai KPM. Jadi mereka berdua itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan Bansos BPNT, BBM, PKH di Desa Kertosari, ” Tegasnya.

“kalau saja Robi tidak mengajak Bu Ngatinem dan Supiyati ke rumahnya untuk ketemu dengan tamunya, mungkin kondisi Bu Ngatinem dan Supiyati saat ini tidak seperti orang bingung dan ketakutan, coba lihat Bu Supiyati saat ini sampai sakit. Kalau terjadi hal yang tidak di inginkan, siapa yang mau bertanggung jawab, ” Pungkasnya.(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *