Lampung Selatan

Adik Petinggi NU Lamsel Resmi Jadi Tahanan Polres Lampung Selatan Tersangkut Kasus Cabuli Santri di Bawah Umur

Avatar photo
51
×

Adik Petinggi NU Lamsel Resmi Jadi Tahanan Polres Lampung Selatan Tersangkut Kasus Cabuli Santri di Bawah Umur

Sebarkan artikel ini

TINTAINFORMASI.COM, LAMPUNG SELATAN — Adik petinggi NU Lampung Selatan, yang menjadi pengelola sekaligus pemilik pimpinan Pondok Pesantren Huffadh El Karimi Syah, Munirul Ikhwan (42) alias Munir, warga Dusun Purwodadi, Desa Rulung Raya, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung itu kini mendekam di Lapas Kalianda, sebagai tahanan titipkan Polres Lampung, sejak Jum’at 30 Desember 2022.

“Iya mas, Kya Munir itu adik pengurus NU Lampung Selatan, yang juga punya pondok pesantren namanya ngetop kok, Ust AD. Mereka tiga Sodara, dan semua punya Pondok Pesantren di wilayah Lampung Selatan. Itu lihat sendirikan di depan Ponpesnya tertulis besar besar NUnya,” kata warga sekitar Ponpes di Desa Rulung Raya.

Sementara Pondok Pesantren Pesantren Huffadh El Karimi Syah, kini diliburkan. Tidak aktivitas apapun di Pondok itu, pasca Munir di tangkap Polisi, karena mencabuli satrinya yang masih di bawah umur. Munir dilaporkan berdasarkan Laporan polisi nomor: LP/B-1323/XII/2022/SPKT/RES LAMSEL/POLDA LAMPUNG tanggal 20 Desember 2022.

Dia disangka melakukan penculan terhadap tiga satriwatinya, satu diantaranya dibawah umur, di Pondok Pesantrenya di Desa Rulung Raya, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, medio 16 Desember 2022 pukil 15.00 WIB. Munir kemudian ditangkap lantaran melakukan tindak pidana pencabulan terhadap 3 santriwatinya.

Kapolres Lampung Selatan, Edwin membenarkan pimpin Ponpes itu sudah ditangkap. “Iya benar, yang bersangkutan sudah kami lakukan penahanan. Kami tetapkan menjadi tersangka setelah dilakukan pemanggilan untuk dilakukan pemeriksaan,” kata Edwin, Rabu 4 Januari 2023.

 

Menurut Edwin hingga saat ini berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengakuan tersangka ada 3 santriwati yang menjadi korban aksi cabulnya itu. “Ada tiga korban berdasarkan keterangan tersangka dan laporan korban. Namun hal itu masih kami dalami,” kata Edwin.

 

Dalam kasus ini, lanjut Edwin Satreskrim Polres Pesawaran telah menaikkan status perkaranya dari penyelidikan menjadi penyidikan. “Berdasarkan dua alat bukti, unsurnya terpenuhi maka yang bersangkutan kami lakukan penahanan,” ujarnya.

 

Sementara, pihak keluarga pelapor berharap tersangka dikenakan sanksi hukum sesuai dengan perbuatannya. “Alhamdulillah kami mendapatkan laporan dari polisi bahwa yang bersangkutan telah ditangkap. Kami berharap polisi bisa adil dan tersangka ini bisa dihukum dengan seadil-adilnya,” kata Suwardi, paman salah seorang korban.

Sebelumnya, Suwardi mengatakan peristiwa pelecehan seksual ini sudah terjadi dua kali.”Peristiwanya sudah dua kali, waktu itu saat keponakan saya main handphone di samping pintu, kemudian pelaku datang dan langsung memegang payudara. Keponakan saya pun berlari karena takut,” katanya kepada wartawan.

 

Menurut Suwardi sebelumnya peristiwa serupa pernah dialami keponakannya pada saat tertidur. “Kalau sebelumnya dia lagi tidur dipegang juga payudaranya, tapi dia nggak ngerasa tapi ada yang lihat terus yang lihat ini ngomong sama dia ‘tadi kamu tidur dipegang loh sama abah’,” terangnya.

 

Sebelum melaporkan ke Polsek Natar, pihaknya telah terlebih melaporkan perbuatan tersebut ke Kepala Dusun setempat. “Pasca kejadian kami melapor dulu ke kadus bahwa ketua pesantren itu melakukan tindakan senonoh kepada keponakan saya. Kemudian paginya, sekitar jam 10 mengadu ke pamong setempat. Namun ditolak oleh pamong karena katanya mereka tidak bisa memutuskan karena masih ada atasannya yakni Lurah,” katanya.

Akhirnya lantaran tidak ada reson, maka akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk melaporkan perbuatan tersebut ke polisi. “Kami kemudian lapor ke polisi,” katanya.

(Dilansir dari sinarlampung.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *