Lampung Utara

Proyek Siluman Wisata Curug Kelawas Lampura Diduga Abal-abal

Avatar photo
11
×

Proyek Siluman Wisata Curug Kelawas Lampura Diduga Abal-abal

Sebarkan artikel ini

TINTAINFORMASI.COM, LAMPUNG UTARA -Indahnya wisata Air Terjun kelawas yang terletak di Desa Pekurun Barat Kecamatan Abung Tengah Lampung Utara ra bukan hanya menyimpan sejuta pesona namun juga misteri bagi penduduk sekitar.

Pasalnya warga desa setempat tak mengetahui asal muasal adanya proyek pembangunan wisata tersebut karena minimnya informasi dari pemerintahan desa.

“Yang kami lihat di Curug ada pembangunan tapi ngak jelas bantuan darimana, yang tahu kades dan bendahara karena bolak balik melihat proyek itu” ujar Warga yang mewanti -wanti namanya jangan disebutkan.

Dirinya mengatakan bahwa informasi yang mereka terima wisata Curug juga masih bermasalah tentang status kepemilikannya karena bukan merupakan milik desa melainkan milik pribadi.

“Kalo bangunan itu berasal dari pemerintah apakah tidak bermasalah soalnya kalo termasuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) harus jelas kepengurusan dan ijinnya” ujar warga.

Terkait hal itu, Kabid Usaha Ekonomi dan Teknologi Tepat Guna (UETG) Dinas PMD Lampura, Redi Apriyansyah mengatakan bahwa pembangunan di desa pekurun barat adalah program bantuan dari Kementerian Desa PDTT pusat.

“Setahu kami itu untuk program pembangunan desa wisata melalui kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pengembangan desa wisata dengan nilai Rp 400 juta” jelas Redi jum’at (04/08/23).

Dirinya mengatakan bahwa pihak desa mengajukan usulan langsung dan bertanggung jawab kepada pihak kementrian.

“Kami hanya mengetahui saja, terkait teknis dan lainnya langsung dikelola pusat” pungkasnya.

Mendapatkan keterangan warga, awak media langsung menuju lokasi proyek yang dikeluhkan masyarakat tersebut dan dalam pantauan dilapangan tidak ditemukan papan proyek maupun papan informasi pendukung lainnya.

Dalam proyek wisata senilai Rp. 400 juta itu dibangun Gazebo 3 unit dengan satu buah Mushola dengan atap rangka baja dan diduga bahan yang digunakan berkualitas rendah.

Hingga berita ini diturunkan pihak pemerintah desa maupun pengelola kegiatan belum bisa dihubungi.(BBG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *