Lampung

Petani Jagung di Lampung di Anak Tirikan.

Avatar photo
10
×

Petani Jagung di Lampung di Anak Tirikan.

Sebarkan artikel ini

TINTAINFORMASI.COM, LAMPUNG — Hadirnya pemerintahan adalah harapan semua masyarakat terutama para petani yang sudah pasti menjadi tombak penentu keberhasilan ekonomi suatu wilayah khususnya atau negera secara umumnya, namun apa boleh dikata sejak dahulu hingga sekarang kendati zaman sudah berubah secara teknologinya lagi – lagi para petani selalu merasa dirugikan diakhir atau menjelang
panen raya.

Tiba berlebih makin curhat marutnya kepastian pasar yang tidak pasti dan para petani dibuat dilema oleh para kapitalis industri yang tidak lain adalah para trading pasar dimana ketetapan harga panen para petani dilevel petani seakan – akan tidak memiliki sebuah nilai yang berarti dari peras keringat setiap harinya dan seakan akan hasil panen para petani dibuat permainan sedemikian rupa, namun apalah daya sosok seorang petani yang hanya bisa menerima tanpa banyak bicara berlebih kemana mereka mengadu, sungguh begitu terlalunya para trading untuk merauk keuntungan yang sangat luar biasa.

Dengan mematok harga panen petani dibawah angka keberhasilan secara ekonomi usahanya, disisi lain kecurangan demi kecurangan selalu diterima oleh petani baik potongan timbangan, Kadar air walaupun standardisasi usia panen sudah cukup bahkan melampaui batas usia panennya, belum lagi kejam ya para trading industri berani memainkan timbangan yang sangat pantastis dan tidak adanya monitoring dari pemerintah untuk mengawasi alat ukur timbangan (tera), secara berkala bahkan hadirnya para trading industri di masyarakat atau para petani seakan – akan pemerintah menutup mata bahkan bisa jadi tidak adanya fungsi pengawasan yang bekerja dilapangan dari dinas yang terkait bahkan tidak adanya izin usaha secara legal.

Hadirnya usaha trading industri ditengah para petani adalah perpanjangan atau agen suatu company industri yang berusaha mendapatkan bahan baku khususnya hasil panen jagung dilampung dengan mematok harga yang sangat tidak wajar karena secara analisa usaha tani hal ini sangat merugikan sekali para petani (hulu).

Sedangkan dalam usaha budidaya jagung perhektar lebih dari 10 juta rupiah lebih belum lagi ketika tanaman diserang hama penyakit artinya petani harus memiliki dana ekstra sebagai tambahannya dan lebih ironis lagi para petani disulitkan disaat membutuhkan pupuk yang katanya disubsidi oleh pemerintah pertanyaannya kemana subsidi pupuk itu ketika dibutuhkan oleh para petani.

Pemerintah harusnya lebih serius menangani hal ini, terutama dinas pertanian untuk selalu bekerja dan mengkontrol jalannya kegiatan hulu dipertanian hingga panen atau pasca panennya karena menyangkut cerita keberhasilan swasembada bukan harus mengarang sebuah cerita hasil karya dari para petani.

melainkan harus tumbuhnya ide – ide baik dan inovatif dan menghasilkan peluang yang selalu mendukung para petani untuk memajukan ekonomi disuatu wilayah guna tumbuhnya pendapatan daerah (PAD), secara kemandirian.

Kesadaran para petani saat ini sudah mulai paham dan mengerti tentang pertanian yang berorientasi hasil tinggi dan mutu (volume and value), yang dibutuhkan dipasaran secara umum, namun juga tidak banyak para petani yang tidak tahu atau belum mengerti secara budidaya yang berteknologi, akan tapi hal ini tidak menurunkan semangat para petani dengan hadirnya formulator – formulator swasta atau para agronomis swasta yang sedang melakukan promosi product dengan melakukan demoplot seeds and chemicals melahirkan para petani cerdas dan kritis akan keberhasilan dan keilmuan yang dapat membantu pemerintah terutama dinas terkait.

Dengan waktu dan jarak yang sangat menyentuh keberhasilan para petani di desa-desa tanpa mengenal lelah dibanding para penyuluh pemerintah yang terkadang para petani tak mengenal siapa penyuluh diwilayahya.

Hal yang sangat perlu diketahui oleh para petani dan harus dijadikan pengalaman adalah belajar dari ketertinggalan dan masa sulit disaat -saat petani memulai usahanya dimana benih yang mahal, obat – obatan serta pupuk yang mahal bahkan langka serta hilang dari keberadaannya ditengah- tengah para petani membutuhkan.

Lalu kehilangan produksi akibat pola tanam bahkan musim, hama dan penyakit, bencana alam, proses panen dan pascapanen, yang selalu tidak dapat dihindari oleh para petani disetiap usahanya lebih dari 10%, belum lagi penyusutan ketika cuaca hujan bahkan harga yang murah atau tidak ada ketetapan harga tertinggi dilevel para petani sebagai neraca keberhasilan ekonomi pertanian (ektan), bukan neraca usaha industri atau para trading saja.
Sekian petani itu bahagia.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *