Lampung

Maskot pilkada Balam mendapat kritikan dari Dr yunada arfan Dosen perguruan tinggi Lampung

Avatar photo
245
×

Maskot pilkada Balam mendapat kritikan dari Dr yunada arfan Dosen perguruan tinggi Lampung

Sebarkan artikel ini

Tintainformasi.com, Lampung —Polemik terkait Maskot Pilkada 2024 Kota Bandar Lampung yang diluncurkan oleh KPU Kota Bandar Lampung pada Minggu 19 Mei 2024 di Tugu Adipura mendapatkan berbagai reaksi, kritikan dan pendapat dari berbagai elemen masyarakat Kota Bandar Lampung.

 

Salah satunya datang dari salah seorang Akademisi yang berprofesi sebagai salah satu dosen di Bandar Lampung dan juga merupakan putra asli Lampung Dr Yunada Arfan, dia berpendapat bahwa Maskot merupakan figur Fiksional yang dapat membangun Identitas.

 

“Maskot merupakan figur fiksional yang dapat membangun identitas serta menciptakan dan mengekspresikan personalitas brand yang diwakilinya. Maskot juga dapat membantu target pemasaran untuk mengidentifikasi, mengingat, dan memahami suatu brand,” ujar Yunada melalui pesan singkat WhatsAppnya kepada RadarCyberNusantara.com, Minggu (19/05/2024).

 

Selain itu menurut Yunada, Maskot dan logo itu mempunyai perbedaan.

 

“Logo dan maskot itu ada perbedaan, maskot pendukung logo tetapi memang maskot untuk mempertajam brand tetapi tetap mewakili suatu entitas, nah yg sudah umum di Lampung kan Gajah,” ucapnya.

 

Selain itu menurut Yunada, untuk Maskot Pilkada 2024 semestinya dicarikan yang betul-betul pas.

 

“Untuk Bandar Lampung mestinya dicari yg pas, yg dalam maskot tentunya memunculkan karakter tertentu, sedangkan untuk gambar monyet tentunya harus bisa diklarifikasi oleh yg memunculkan arti atau filosofi hewan tersebut, kenapa monyet yg harus di tonjolkan dan bukan benda yg lain,” imbuhnya.

 

Bahkan Yunada sendiri tidak setuju jika hewan monyet yang dijadikan maskot pilkada 2024 Kota Bandar Lampung.

 

“Sebab maskot tidak mesti harus binatang, meskipun pada dasarnya Maskot itu kadang muncul atau tampil dlm bentuk gambar yg lucu… Sy pribadi kurang setuju jika monyet yg jadi maskot, apalagi harus diberi pakaian adat,” tegasnya.

 

Untuk itu Dia Menyarankan agar KPU memberikan klarifikasi dan penjelasan kepada masyarakat terutama tokoh-tokoh Adat Lampung.

 

“Saran saya, yg minta KPU atau yg bertanggung jawab atas hal ini berikan klarifikasinya, toh ini sekedar maskot dan boleh saja untuk diganti. Apalagi sudah banyak yg berkomentar dan keberatan atas maskot tersebut,” katanya.

 

Terlebih lagi menurut Yunada, hewan/binatang monyet atau kera mempunyai karakter yang tidak patut untuk dicontoh oleh manusia.

 

“Kera atau monyet adalah binatang yang serakah. Ironisnya, setelah melakukan pelanggaran, mereka justru tidak merasa bersalah, malah membanggakan kesalahan yang telah diperbuatnya.

Pipi kiri dan kanan penuh dengan makanan, tangan kiri dan kanan memegang makanan, tapi masih beringas kalau ada kera lain yang akan mengambil makanan yang tersisa. Ketika keserakahan mendominasi akal pikiran, hati nurani akan sulit mengendalikan tingkah laku. Bahkan hubungan persaudaraan sekalipun tidak mampu membukakan mata hati. Demikianlah sifat kera yang bisa menjadi tabiat dan watak manusia.” Tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *