Scroll untuk baca artikel
Mirza-Jihan
Lampung Tengah

Sejumlah Kepala Sekolah Buka Suara, Sebelum Dilakukan Pemeriksaan Oknum Pejabat Inspektorat Pungut “Uang Pengertian” Kalau Tidak Ada Pemeriksaan Dipersulit

57
×

Sejumlah Kepala Sekolah Buka Suara, Sebelum Dilakukan Pemeriksaan Oknum Pejabat Inspektorat Pungut “Uang Pengertian” Kalau Tidak Ada Pemeriksaan Dipersulit

Sebarkan artikel ini
Sejumlah Kepala Sekolah Buka Suara, Sebelum Dilakukan Pemeriksaan Oknum Pejabat Inspektorat Pungut “Uang Pengertian” Kalau Tidak Ada Pemeriksaan Dipersulit
Example 468x60

TINTAINFORMASI.COM, LAMPUNG TENGAH — Sejumlah Kepala Sekolah Dasar (SD) di Lampung Tengah buka suara soal dugaan permintaan sejumlah uang sebagai sample (contoh) pemeriksaan dari beberapa oknum Inspektorat Lamteng.

Menurutnya, beberapa kepala sekolah sebelum dilakukan pemeriksaan telah dilakukan pengkondisian sebelumnya.

“Gimana ya, Inspektorat melarang untuk korupsi tapi kita kalo gak pengertian, mereka akan lebih mempersulit dan ada saja kesalahan itu,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan, harusnya kalau Inspektorat membina itu ada bekasnya. Misalnya, satu Kecamatan dibimbing cara pembuatan laporan yang benar.

“Tapi ini, kita sudah ditarget gitu. Tanyalah sama kepala sekolah dan K3S, kalau dengan Inspektorat itu pasti duitnya gedek. Duit apa coba? kalau duit sendiri gak mungkin, kita gak boleh korupsi tapi ternyata kita harus menilap uang untuk transportasi dan oleh-oleh untuk mereka gitu,” bebernya.

Misalnya, lanjut dia, ada beberapa sekolah sebagai sample untuk dilakukan pemeriksaan. Itu sudah ditarget minimal jutaan hingga puluhan juta, belum lagi uang rokok, transportasi, makan dan lainnya.

“Ya atur-atur lah masak gak bisa atur uang segitu kan bapak ibu dapet uang banyak dari dana BOS, “ungkap sumber menirukan ucapan oknum Inspektorat, Selasa (27/08/2024).

Lebih lanjut dikatakannya, “ Lah itu kan jatah uang Anak-anak untuk kebutuhan operasional di sekolah, untuk buku, lemari dan lainnya,” tambahnya lagi.

Menurutnya, dengan adanya dugaan permintaan sejumlah uang, dirinya dan beberapa kepala sekolah berinisiatif bagaimana untuk menanggulangi itu.

“Kami mengutip dari Dana BOS sebesar 3000 hingga 5000 rupiah persiswa, serta menganggarkan belanja fiktif tanpa barang hanya nota untuk menutupi semua itu,” jelasnya lagi sembari mewanti-wanti namanya tidak disebut.

Masih dikatakannya, belum lagi nanti saat setoran laporan, kami masih juga diminta lagi uang makan siang.

“Jadi kita gak enak, tapi apa boleh buat karena sebuah persatuan untuk kita semua biar gak bertele-tele tapi tetep saja dipersulit. Mereka itu yang mengajarkan kita korupsi padahal kita beli buku anti korupsi,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Inspektorat Lamteng Adi Sriyono S.Sos.,M.M, saat dihubungi via telepon selulernya mengaku kaget ada hal seperti itu. Terlebih oknum yang diduga melakukan tindakan pungli itu merupakan ASN Inspektorat.

“itu setoran apa? Wah gila kok berani amat, coba cari bukti dulu. Itu gak bener kalau ada harus ditindak tegas, tolong bantu saya juga untuk info itu kalau benar adanya. Kalau dari kami gak bener itu seperti itu,” pungkasnya.

Mirza-Jihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *