BERITAKota MetroLampung

“Insiden di Lapas Kota Metro Lampung” Wartawan Protes! Kalapas Ancam ‘Bisa Membunuh’

56

Tintainformasi.com, Kota Metro – Suasana yang seharusnya penuh khidmat dalam rangka kegiatan Ramadan 2026 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kota Metro mendadak berubah tegang. Tiga wartawan online mengaku mendapat perlakuan tak menyenangkan saat hendak melakukan peliputan, Selasa (3/3/2026).

Ketiga jurnalis tersebut yakni Rusia dari gardarepublik.id, Roby Chandra dari netreeone.com yang juga tergabung dalam Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), serta Taufik dari kabardigital.com. Mereka datang dengan niat meliput kegiatan pembinaan warga binaan selama bulan suci Ramadan.
Namun, niat tersebut kandas di depan pintu lapas.

Awalnya, seorang pegawai menyampaikan bahwa Kepala Lapas sedang sibuk mengikuti rapat. “Pak Kalapas lagi sibuk, masih ada rapat, nanti saya sampaikan,” ujar pegawai tersebut kepada para wartawan yang menunggu di luar.

Beberapa menit berselang, situasi berubah. Salah satu pegawai kembali keluar dan memanggil nama Roby Chandra. Di tangannya terdapat dua amplop yang kemudian disodorkan kepada wartawan.

“Mana yang namanya Roby?” tanya pegawai itu, sembari menyerahkan amplop yang disebut sebagai titipan dari atasan.

Sontak, suasana menjadi canggung. Ketiga wartawan merasa dilecehkan. Niat meliput kegiatan Ramadan justru dibalas dengan amplop berisi uang. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk yang tidak pantas terhadap profesi jurnalis.

Roby Chandra langsung melontarkan protes dan mempertanyakan maksud pemberian amplop tersebut. Namun, pegawai itu berdalih hanya menjalankan perintah.

“Saya hanya menjalankan perintah,” ucapnya singkat. Merasa profesinya direndahkan, ketiga wartawan itu menolak dan mengembalikan amplop berisi uang tersebut di loket teralis besi sambil mendokumentasikan kejadian.

Tak lama kemudian, Kepala Lapas Kelas IIB Kota Metro, Tunggul Buwono, keluar bersama Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Walid dan seorang staf. Alih-alih meredakan suasana, pertemuan itu justru memanas.

Dengan nada tinggi, Tunggul mengaku lelah dengan padatnya kegiatan di dalam lapas.
“Kami juga banyak kegiatan, kami juga zoom baru selesai, capeknya bukan main, kok kami malah diginikan,” ujarnya.

Situasi semakin memprihatinkan ketika, menurut pengakuan wartawan, Kalapas melontarkan pernyataan bernada ancaman.
“Saya bisa bikin mati orang loh dengan cara kamu begini,” kata Tunggul dengan suara keras, sembari menunjuk ke arah wartawan.

Ucapan tersebut sontak membuat suasana semakin tegang. Para jurnalis menilai sikap tersebut mencederai kemitraan antara pers dan lembaga negara yang selama ini terjalin baik.

Roby menyayangkan insiden itu. Menurutnya, hubungan wartawan dengan pihak lapas sebelumnya berjalan harmonis. Ia menilai kejadian ini tidak perlu terjadi apabila ada pemahaman yang baik terhadap tugas dan fungsi pers.

Senada, Rusia menegaskan bahwa kedatangan mereka murni untuk meliput kegiatan Ramadan, bukan untuk kepentingan lain.

“Kami datang hanya untuk liputan kegiatan Lapas selama bulan Ramadan di Lapas Kelas IIB Kota Metro dan bukan untuk yang lain,” tegasnya.

Atas peristiwa yang dinilai arogan dan melecehkan profesi wartawan tersebut, awak media berencana melaporkan kejadian ini ke Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan wilayah Provinsi Lampung untuk mendapatkan klarifikasi dan tindak lanjut.

Hingga berita ini dirilis, belum ada keterangan resmi tertulis dari pihak Lapas Kelas IIB Kota Metro terkait dugaan pemberian amplop dan pernyataan ancaman tersebut.

Situasi ini pun menjadi sorotan, memunculkan pertanyaan besar tentang transparansi, etika pelayanan publik, dan penghormatan terhadap kerja jurnalistik. (Tim)

Exit mobile version