TINTA INFORMASI, LAMPUNG – Mantan Kapolda Lampung 2016, Irjen Pol. (Purn.) Drs. H. Ike Edwin, S.H., M.H., M.M. atau yang akrab disapa Dang Ike, meluruskan pemberitaan yang masih menyebut dirinya sebagai Perdana Menteri Kerajaan Kepaksian Pernong Paksi Pak Skala Brak. Ia menegaskan penyebutan tersebut sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini karena dirinya telah lama tidak menggunakan atribut maupun penyebutan yang berkaitan dengan Kepaksian Pernong.
Penegasan itu disampaikan Dang Ike menyusul beredarnya pemberitaan di salah satu media sosial yang kembali mencantumkan jabatan tersebut. Menurutnya, keputusan untuk tidak lagi menggunakan atribut maupun penyebutan itu merupakan bentuk penghormatan terhadap tatanan adat sekaligus upaya menghindari polemik di tengah masyarakat adat Kepaksian Pernong.
“Saya ingin meluruskan bahwa atribut maupun penyebutan yang berkaitan dengan Kepaksian Pernong sudah lama tidak lagi saya gunakan. Itu saya lakukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun kericuhan di tengah masyarakat adat Kepaksian Pernong,” ujar Dang Ike, Rabu (8/7/2026).
Dang Ike mengatakan, saat ini dirinya lebih memilih dikenal sebagai Tokoh Adat Lampung dan Tokoh Masyarakat Lampung. Menurutnya, selama ini pengabdiannya lebih banyak diwujudkan melalui kegiatan sosial, pelestarian budaya, pembinaan generasi muda, pemberdayaan masyarakat, serta menjaga persatuan masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai.
Ia menegaskan bahwa jabatan maupun gelar bukanlah tujuan utama dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
“Yang terpenting bukan jabatan ataupun gelarnya. Yang paling utama adalah bagaimana kita bisa memberikan manfaat yang nyata kepada masyarakat, menjaga adat budaya, serta ikut membangun Lampung dengan karya dan pengabdian,” katanya.
Dang Ike menjelaskan, penyematan dirinya sebagai Tokoh Adat Lampung maupun Tokoh Masyarakat Lampung bukan berasal dari keinginan pribadi, melainkan merupakan bentuk penghormatan yang diberikan masyarakat atas kiprah yang telah dijalankannya selama bertahun-tahun.
Selain itu, ia mengaku telah menerima berbagai gelar kehormatan adat dari sejumlah marga di Provinsi Lampung, termasuk gelar Sutan, sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasinya dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya.
“Alhamdulillah, masyarakat yang memberikan kepercayaan kepada saya. Selain dikukuhkan sebagai tokoh adat dan tokoh masyarakat, saya juga telah diberikan gelar Sutan oleh beberapa marga di Lampung,” ungkapnya.
Tak hanya di Lampung, Dang Ike juga menerima sejumlah gelar kehormatan dari berbagai raja dan kerajaan adat di Indonesia. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan amanah untuk terus memperkuat persaudaraan antarkerajaan adat serta melestarikan budaya bangsa.
Ia juga memberikan penjelasan mengenai jabatan Perdana Menteri dalam struktur Kepaksian Pernong yang selama ini menjadi perhatian publik. Menurutnya, jabatan tersebut hanya berada dalam lingkup tata kelola internal adat dan tidak memiliki cakupan yang luas sebagaimana dipersepsikan sebagian masyarakat.
“Kalau berbicara soal Perdana Menteri di Kepaksian Pernong, itu ruang lingkupnya hanya dalam struktur kepaksian saja. Bahkan kalau diibaratkan dalam pemerintahan, tingkatannya hanya setara pekon atau tiyuh, seperti desa atau kelurahan,” jelasnya.
Karena itu, Dang Ike meminta masyarakat tidak membesar-besarkan ataupun salah memahami makna jabatan tersebut. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih fokus menjaga persatuan, melestarikan adat istiadat, serta memperkuat nilai-nilai kebhinekaan di Provinsi Lampung.
“Jangan sampai masyarakat salah memahami. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga adat, menjaga budaya, dan menjaga persatuan masyarakat Lampung,” tegasnya.
Menutup keterangannya, Dang Ike mengajak masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berpotensi memicu kesalahpahaman mengenai lembaga adat. Ia menilai pengabdian yang memberikan manfaat nyata kepada masyarakat jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar jabatan atau gelar.
“Kalau masyarakat merasakan manfaat dari apa yang kita lakukan, itulah penghargaan yang sesungguhnya. Gelar hanyalah simbol, tetapi pengabdian adalah bukti nyata yang akan selalu dikenang,” pungkasnya. (**)


