Lampung Timur

Kadis dan Pihak Rumah Sakit Diduga “Kong Kalikong”, Kasus MalPraktik Tak Bertanggung Jawab 

110
×

Kadis dan Pihak Rumah Sakit Diduga “Kong Kalikong”, Kasus MalPraktik Tak Bertanggung Jawab 

Sebarkan artikel ini

TINTAINFORMASI.COM, LAMPUNG TIMUR — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Timur dr. Satya, diduga “kongkalikong” terhadap pihak rumah sakit terkait kasus malpraktik pengobatan pasien di rumah sakit setempat.

Pasalnya, saat dikonfirmasi terkait kelanjutan penanganan pengobatan pasien berinisial AN (36) warga Desa Sumber Marga Kecamatan Way Jepara beberapa waktu lalu.

Kadis justeru terkesan seolah olah buang badan dan terkesan berpihak kepada rumah sakit.

Sebab menurut Kadis, hasil informasi yang dia dapat dari pihak rumah sakit diketahui bahwa penyakit yang diderita pasien AN merupakan penyakit riwayat (bawaan).

Kemudian kata dia, hasil pengecekan sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit, pasien AN sudah pernah berobat ke dokter lain.

Lulu kemudian pihak rumah sakit melakukan operasi pada bagian saluran air seni.

Setelah dilakukan operasi, pasien disarankan untuk kontrol, namun pasien tidak melakukan kontrol.

Terkait keterangan yang disampaikan Kadiskes Lamtim pihak rumah sakit belum dapat dimintai komentar terkait kasus mall praktik tersebut. “Saya sudah mencoba untuk menanyakan kembali soal dugaan mall praktik yang dilakukan pihak rumah sakit. Karena masih ada pemeriksaan dari pusat, nanti akan saya coba dan akan saya panggil,” kata Satya kepada media ini, Senin (3/4/2023) lalu.

Diberitakan sebelumnya, dugaan MalPraktek RS Permata Hati Way Jepara yang menimpa salah pasien warga Desa Sumber Marga Kecamatan Way Jepara AN (36) dan akan melaporkan kasus ini ke aparat penegak hukum dan meminta pihak rumah sakit bertanggung jawab.

Sebab, sampai saat ini pasca gagalnya tindakan operasi pencabutan selang saluran air seni yang dilakukan oleh dokter bedah RS Permata Hati Way Jepara, dr. Budi Darsono.Sp.B yang mengakibatkan terpuruknya nasib AN (36) dan kondisi terbaring lemah.

Meski demikian hampir kurang lebih dua bulan pasca operasi pihak RS Permata Hati Way Jepara terkesan bungkam dan tidak pro aktif mengatasi permasalahan tersebut.

Selain itu, akibat dari kelalaian serta tidak profesionalnya tim medis membuat fatal fisik pasien.

Sebelumnya juga saat media ini bermaksud ingin melakukan konfirmasi ke pihak RS. Permata Hati Way Jepara melalui Scurity meminta Awak Media untuk menghubungi seseorang yang belum jelas keterkaitannya dengan Manajemen RS. “Tunggu sebentar coba saya tanya Humas atau Direktur RS ini apakah bisa ditemui,” jawab Anton Scurity rumah sakit. Rabu (29/3/2023) lalu.

Tak berselang lama, Anton kembali menemui Awak Media serta menyampaikan pesan dari Humas RS. Permata Hati bahwa Humas atau Direktur RS. Permata Hati tidak bisa untuk ditemui. “Saya tidak menghalangi loh. Lagi ada tamu, tidak bisa ditemui. Kalau mau menemui Direkturnya, di pusat di Metro, ini pesan Humas Pak Rudi, ” ujarnya.

Anton menambahkan, Humas RS. Permata Hati, Rudi berpesan agar menemui seseorang yang bernama Robet sebelum bertemu dengan Direktur RS. Permata Hati. Menurut Anton, orang yang bernama Robet tugasnya mengurusi semua permasalah di RS. Permata Hati. “Ini tadi kata bagian Humas Pak Rudi, disuruh menemui Pak Robet sebagai pengurus semua kalau ada masalah di RS ini, nanti Pak Robet yang menyampaikan ke Direkturnya. Ini tadi Humas kasi no tlp Pak Robet, jadi bisa ngubungi dia, bisa janjian ketemuan dimana,” kata Anton.

Sebelumnya juga diketahui nasib malang meminta AN (36) akibat kelalaian seorang perawat RS Permata Hati Way Jepara saat memasang selang air seni akhirnya burung terkutut miliknya tak bisa manggung lagi.

Kejadian ini berawal saat AN (36) mengalami susah buang air seni, hingga pada Sabtu 7 Januari 2023 lalu AN mendatangi RS Permata Hati untuk melakukan pemeriksaan.

Ketika di RS Permata Hati, seorang perawat yang menangani keluhan AN segera mengambil tindakan hingga pada bagian burung terkutuk milik AN dipasang selang agar burung itu bisa mengeluarkan air seni.

Namun malang nasib AN, menurut Dokter RS Permata Hati, selang kemih yang dipasang oleh Perawat pada burung terkutut AN ternyata terbalik hingga mengakibatkan AN harus menjalani operasi saat pencabutan selang.

Kelalaian Perawat ini diduga saat memasang selang kemih pada burung terkutut milik AN, si Perawat tak konsentrasi, mungkin karena burung terkutut AN sangat indah hingga membuat si perawat melamun saat memasang selang, akhirnya selang kemih pun terbalik.

Menurut AN, setelah selama 14 hari dari pemasangan selang kencing di RS Permata Hati, dirinya datang ke Puskesmas Way Jepara dengan tujuan hendak melepas selang pada burung terkututnya. Namun pihak Puskesmas mengatakan tidak bisa, akhirnya AN kembali mendatangi RS Permata Hati untuk melepas selang tersebut. “Pihak Puskesmas mengatakan tidak bisa, akhirnya saya kembali ke RS Permata Hati. Saat di RS Permata Hati saya ditangani oleh seorang dokter yang bernama Budi, saat itu kata dokter Budi ada kesalahan saat pemasangan selang, ” Ujar AN kepada Media Kamis 23/3/2023. “Ini ada kesalahan pada saat pemasangan selang, kalau gak salah pasang selang atau selangnya ke balik ini. Ini selangnya gak bisa dilepas, maka harus dilakukan operasi, ” Jelas AN menirukan perkataan dokter Budi kepadanya.

Saat itu juga, kata AN, dihadapannya dokter Budi menyalahkan si perawat yang memasang selang terbalik. “Saya bilang pada dokter Budi, waktu pemasangan selang juga di RS Permata Hati, tapi saya tetap bayar sendiri biaya operasinya,” ungkapnya.

Akhirnya RS Permata Hati melakukan operasi bedah untuk pencopotan selang air seni. Setelah usai operasi, kaki dan wajah AN mengalami pembengkakan. Bahkan AN sampai tidak bisa berjalan. “Dari sinilah awal petaka pada diri saya. Setelah operasi, air kencing saya tidak bisa ditahan terus menerus keluar air seni rupabahkan harus saya bungkus dengan kantong plastik, ” Ungkap AN sambil menunjukkan bekas luka operasi pada perutnya.

Melihat kondisi AN semangkin parah usai dilakukan operasi, akhirnya AN didampingi keluarga mendatangi RS Permata Hati untuk minta pertanggung jawaban atas kesalahan yang dilakukan oleh perawat dan dokter di RS tersebut. “Waktu itu dokter bilang akan diselesaikan secara kekeluargaan, namun hingga sekarang tidak ada kabarnya, ” Tukas AN.

Pasca Operasi itu, selama dua bulan ini AN harus menahan rasa sakit di bagian alat vitalnya dan alat vitalnya mengeluarkan air seni terus menerus. Bahkan, lebih parahnya lagi usai Operasi kini burung terkutut milik AN tidak bisa berfungsi alias tak bisa manggung lagi.

Sementara, Eni orang tua AN meminta pihak RS Permata Hati bertanggung jawab atas penderitaan anaknya.

Menurut Eni, anaknya (AN.red) sebagai kepala rumahtangga juga harus membiayai kedua anaknya. “Tapi gimana mau kerja, kalau kondisi AN seperti ini” kata Eni.

Menurut Eni pihak keluarga juga sudah bermusyawarah untuk melaporkan kasus ini ke polres Lampung Timur.

“Kami akan segara melaporkan RS Permata Hati ke Polres Lampung Timur, ” tutup Eni.

Senada Leni selaku isteri korban mall praktik AN, katika dihubungi, Jum’at malam (7/4/2023) sampai saat ini suaminya masih terbaring lemah dan terus menerus mengeluarkan air seni. “Jadi saya meminta pihak rumah sakit atau dinas terkait bertanggung jawab dan diberikan pengobatan sampai sembuh dan mengganti rugi matril,” papar Leni.

Leni menyebut, selain seorang suami sosok AN adalah tulang punggung keluarga yang sangat kami harapkan. “Sebab, sejak ia sakit tidak ada lagi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tandasnya.

Selain itu Leni juga meminta keadilan dan kepada pihak dinas kesehatan tidak berpihak kepada rumah sakit yang seolah olah menyalahkan pasien. “Saya berharap agar masalah ini cepat tuntas dan ada tanggung jawab dari pihak terkait,” pungkas Leni dengan nada lesu. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *