Tintainformasi.com, Tanggamus — Angka perceraian di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, sepanjang tahun 2025 tercatat masih sama tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dinilai sebagai tanda lemahnya peran pemerintah dalam menangani persoalan sosial, khususnya terkait stabilitas ekonomi keluarga.
Staf Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kelas IB Tanggamus, Rizki, menyebutkan faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama retaknya rumah tangga, sekitar 900 pasangan yang mengajukan perkara perceraian selama tahun 2025.
“Tingginya angka perceraian di tahun 2025 masih sama dengan tahun sebelumnya. Faktor ekonomi menjadi pemicu dominan konflik rumah tangga,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Dijelaskan Rizki, sebagian besar gugatan cerai diajukan oleh pihak istri terhadap suami yang tidak menjalankan kewajiban memberi nafkah. “Mayoritas gugatan karena suami tidak menafkahi keluarga,” katanya.
Sementara itu, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pernikahan usia dini dinilai tidak terlalu menonjol sebagai faktor perceraian dibandingkan dampak judi online yang sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.
Rizki juga mengungkapkan, pasangan yang bercerai rata-rata masih berada dalam usia produktif. “Rata-rata usia pasangan yang bercerai berada di kisaran 35 sampai 40 tahun,” jelasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kabupaten Tanggamus, Hadi Hariyanto, menilai tingginya angka perceraian merupakan refleksi kegagalan pemerintah dalam merespons persoalan sosial-ekonomi masyarakat.
“Ini menunjukkan lemahnya perhatian pemerintah daerah dalam menanggulangi persoalan sosial. Terutama dalam mengatasi tekanan ekonomi keluarga dan ketimpangan kebijakan di tingkat desa,” tegasnya.
Menurutnya, meskipun pemerintah bukan penyebab langsung perceraian, kebijakan yang lemah dalam menciptakan stabilitas ekonomi turut memperbesar potensi konflik rumah tangga.
“Jika pemerintah abai terhadap kondisi ekonomi warganya, maka tekanan finansial dalam keluarga semakin berat, dan itu berkorelasi dengan tingginya angka perceraian,” pungkas Hadi.
(Irwan)

