Bandar LampungBERITA

Isu Fatherless di Indonesia Mengkhawatirkan, Peneliti: Peran Ayah Dalam Komunikasi Keluarga Mulai Tergerus

415
×

Isu Fatherless di Indonesia Mengkhawatirkan, Peneliti: Peran Ayah Dalam Komunikasi Keluarga Mulai Tergerus

Sebarkan artikel ini

Tintainformasi.com, Bandar Lampung — Fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah dalam relasi emosional keluarga dinilai semakin mengemuka di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Iqbal Al Bifary, mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, yang menyoroti isu tersebut melalui hasil kajian akademiknya.

Menurut Iqbal, fatherless tidak hanya terjadi ketika ayah jarang di rumah, melainkan juga ketika ayah hadir secara fisik tetapi tidak terlibat dalam komunikasi dan hubungan emosional dengan anak. Kondisi ini, kata dia, membuat banyak anak tumbuh tanpa kedekatan emosional, tanpa ruang bercerita, hingga merasa tidak diperhatikan.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

“Banyak anak yang tinggal bersama ayahnya setiap hari, tetapi tidak merasa dekat secara emosional. Tidak ada percakapan, tidak ada ruang dialog, dan akhirnya anak merasa sendirian,” ujar Iqbal, di Bandar Lampung, Rabu (11/12/2025).

Ia menjelaskan, fenomena ini umumnya berawal dari budaya lama yang menempatkan ayah sebagai pencari nafkah dan pemegang otoritas keluarga, sementara urusan emosional dipusatkan kepada ibu. Nilai-nilai gender tradisional ini, menurutnya, masih memengaruhi pola komunikasi keluarga Indonesia hingga sekarang.

“Akibat pembagian peran yang kaku, ayah sering merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan materi. Padahal anak membutuhkan kehadiran emosional, bukan hanya ekonomi,” tambahnya.

GERAKAN AYAH TELADAN JADI ANGIN SEGAR

Dalam kajiannya, Iqbal menilai kehadiran Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) menjadi salah satu terobosan positif untuk mendorong perubahan pola komunikasi keluarga. GATI mengajak para ayah lebih aktif terlibat dalam pengasuhan, menjadi pendengar yang baik, dan membangun hubungan dialogis dengan anak.

“GATI menggeser paradigma lama. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga sahabat bagi anak,” kata Iqbal.

Ia menegaskan, komunikasi yang baik terbukti memperkuat hubungan internal keluarga dan mencegah terbentuknya jarak emosional antara ayah dan anak.

RISIKO FATHERLESS DI KELUARGA MINIM KOMUNIKASI

Iqbal juga merujuk pada teori pola komunikasi keluarga dari Fitzpatrick yang menegaskan bahwa keluarga dengan percakapan minim—baik tipe protective maupun laissez-faire—lebih rentan mengalami fatherless secara emosional.

“Keluarga yang jarang berdialog berpotensi menciptakan hubungan yang kering. Anak tidak terbiasa mengungkapkan perasaan, dan ayah tidak terbiasa mendengar. Lama-lama jarak emosional terbentuk,” jelasnya.

Ia mendorong keluarga Indonesia untuk bergerak menuju tipe consensual atau pluralistic, yaitu keluarga dengan komunikasi terbuka, diskusi aktif, dan hubungan yang setara.

AJAK AYAH HADIR SECARA EMOSIONAL

Iqbal menekankan bahwa peran ayah di era digital dan tantangan sosial yang semakin kompleks harus diperluas, bukan hanya sebagai penyedia kebutuhan materi. Keterlibatan ayah dalam komunikasi dinilai penting untuk membentuk anak yang percaya diri dan stabil secara emosional.

“Anak-anak butuh didengar. Mereka butuh ayah yang hadir, bukan hanya ada. Kehangatan ayah membuat anak lebih aman dan lebih terarah,” ujarnya.

Ia berharap gerakan seperti GATI dapat terus berkembang dan menjadi budaya baru dalam keluarga Indonesia agar fenomena fatherless dapat ditekan.

“Jika ruang dialog dibuka, kita bisa mencegah generasi tumbuh tanpa figur ayah yang dekat secara emosional,” tuturnya.

Menurut Iqbal, memperkuat keluarga tidak cukup dengan memenuhi kebutuhan materi. Fondasi keluarga yang kokoh dibangun dari komunikasi yang hangat, keterhubungan emosional, dan kehadiran ayah dalam relasi sehari-hari.
(Hadi Hariyanto).

Memuat judul...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *