BERITALampung BaratPENDIDIKAN

Wali Murid Penerima MBG di Desa Gunung Terang, Kecamatan Air Hitam Lampung Barat Keluhkan Menu MBG Tak Sesuai Standar Pemenuhan Gizi

41
×

Wali Murid Penerima MBG di Desa Gunung Terang, Kecamatan Air Hitam Lampung Barat Keluhkan Menu MBG Tak Sesuai Standar Pemenuhan Gizi

Sebarkan artikel ini

Tintainformasi.com, Lampung Barat —
Ramadan, realisasi makan bergizi gratis (MBG) menjadi sorotan wali murid penerima. Kali ini dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Desa Gunung terang kecamatan air hitam Menu MBG terindikasi tak sesuai standar pemenuhan gizi.

Beberapa orang tua kecewa karena paket makanan yang diterima anak-anak mereka karena tidak mencerminkan konsep gizi dan takaran seharusnya.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan selama bulan Ramadan. Salah satu menu yang disoroti adalah roti ,jeruk satu buah dan susu kotak dinilai kurang memperhatikan pemenuhan gizi.

S (45), warga gunung terang ,kecamatan air hitam menyampaikan keluhan ini. Anaknya menerima menu MBG yang dinilai kurang bergizi sejak awal puasa Ramadan.

(S) menilai total nilai menu tersebut tidak sampai Rp 8 ribu. Menurutnya, meski SPPG menganggap itu menu kecil untuk anak-anak, kandungan gizinya tidak mencukupi.

(S) 45 mempertanyakan apakah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hanya mengejar anggaran atau benar-benar memperhitungkan kandungan gizi dalam menu MBG. Ia berharap ada perbaikan menu agar sesuai dengan kebutuhan gizi anak-anak .

Baca juga:  Polsek Pulau Panggung Identifikasi Banjir dan Longsor di Air Naningan

Menurut nya , tujuan MBG seharusnya bukan hanya memberi makan, tetapi juga memastikan pemenuhan gizi yang cukup. Ia juga mempertanyakan fungsi ahli gizi di dapur SPPG jika tidak menghitung kandungan gizi dalam setiap porsi

Program MBG sejatinya digadang-gadang oleh pemerintah sebagai langkah strategis untuk mendukung tumbuh kembang anak melalui asupan nutrisi yang cukup dan seimbang.

Namun, realisasi di lapangan belum mencerminkan tujuan itu. Dia menilai, jika kualitas menu seperti ini terus berlanjut, program yang semestinya membawa manfaat justru bisa menjadi bumerang dan menurunkan kepercayaan publik.

“Kalau niatnya memberi makanan sehat, seharusnya diperhatikan betul kandungan gizinya,” keluh wali murid lainnya.

( )

Memuat judul...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *