Banjir Tidak Sekadar Air
Bagi sebagian orang, banjir mungkin hanya terlihat sebagai genangan air. Namun bagi warga terdampak, ini adalah krisis kehidupan.
Rumah terendam berarti kehilangan tempat aman. Barang rusak berarti kerugian ekonomi. Aktivitas terhenti berarti pendapatan hilang. Belum lagi ancaman penyakit pasca banjir yang sering datang diam-diam.
Yang paling menyakitkan, dampak ini tidak merata. Warga kelas bawah selalu jadi korban utama. Mereka tinggal di daerah rawan karena pilihan terbatas, lalu harus menanggung risiko terbesar.
Ada ironi di sini. Kota berkembang, gedung berdiri, ekonomi bergerak. Namun di sisi lain, ada warga yang harus mengungsi setiap kali hujan deras datang. Seolah-olah, kemajuan itu tidak pernah benar-benar menyentuh mereka.
Ketika Solusi Hanya Tambal Sulam
Penanganan banjir selama ini cenderung bersifat jangka pendek. Normalisasi sungai dilakukan, drainase diperbaiki sebagian, bantuan disalurkan. Semua terlihat bergerak, tapi hasilnya? Banjir tetap datang setiap tahun.
Masalahnya ada pada pendekatan. Kita sibuk memadamkan api, tapi lupa mencari sumber percikan. Tanpa perubahan sistemik, semua upaya hanya seperti menambal ban bocor tanpa pernah mengganti bannya.
Lebih jauh lagi, ada persoalan kebijakan. Perencanaan tata ruang sering kali tidak konsisten. Pembangunan berjalan, tetapi tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Akibatnya, kota tumbuh, tapi tidak siap menghadapi konsekuensinya.
Jika dibiarkan, ini bukan lagi sekadar masalah banjir. Ini adalah krisis kepercayaan publik terhadap pengelolaan kota.

