BERITA

Kota di Bawah Air: Banjir Bandar Lampung

88
Kota di Bawah Air: Banjir Bandar Lampung
Gambar: Ilustrasi

Bandar Lampung, TINTA INFORMASI – Banjir di Bandar Lampung bukan cerita baru. Namun, setiap kali air naik dan merendam rumah warga, narasinya selalu sama: hujan deras jadi tersangka utama. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, hujan hanyalah pemicu—bukan akar masalah.

Bayangkan ini seperti ember bocor. Kita terus menuangkan air, lalu heran kenapa lantai basah. Alih-alih memperbaiki ember, kita malah menyalahkan air. Begitulah wajah penanganan banjir selama ini—reaktif, bukan preventif.

Banjir terbaru yang melanda puluhan titik di kota ini menjadi alarm keras. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah ini benar-benar kejadian luar biasa, atau justru sesuatu yang sudah lama “diundang”?

Dari Drainase hingga Tata Kota

Jika ingin jujur, masalah banjir di Bandar Lampung adalah kombinasi yang “sempurna”—dalam arti buruk. Drainase yang tidak memadai, tata kota yang amburadul, dan pengelolaan lingkungan yang setengah hati bersatu menciptakan bencana yang berulang.

Pertama, soal drainase. Banyak saluran air yang dangkal, sempit, bahkan tersumbat. Dalam kondisi normal saja sudah kewalahan, apalagi saat hujan ekstrem. Air tidak punya tempat pergi, akhirnya ia memilih jalan paling logis: masuk ke rumah warga.

Kedua, alih fungsi lahan. Ruang terbuka hijau yang dulu berfungsi sebagai daerah resapan kini berubah menjadi beton dan aspal. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah kini langsung meluncur deras ke permukiman. Kota kehilangan “spons alaminya”.

Ketiga, kondisi sungai. Sedimentasi membuat banyak sungai dangkal. Lebih parah lagi, beberapa bagian menyempit akibat pembangunan liar. Ini seperti memperkecil selang air tapi berharap debit tetap lancar—jelas mustahil.

Ada satu cerita yang sering terdengar dari warga: “Dulu di sini tidak pernah banjir.” Kalimat sederhana itu sebenarnya menyimpan kritik tajam. Artinya, masalah ini bukan takdir, tapi hasil keputusan manusia.

Exit mobile version