BERITALampung Tengah

Pengerajin Batu Bata Kampung Payung Batu Minta Pemkab Cepat Carikan Solusi

63

Tintainformasi.com, Lampung Tengah– Selama 2 bulan ini 300 tobong bata kurang lebihnya di Kecamatan Pubian Lampung Tengah, tidak produksi, akibat dampak tutupnya penyuplai tanah lempung, Senin 20 April 2026.

Tidak berharap mendapatkan gratis seperti anak-anak sekolah, ratusan pengerajin bata bolong di Kampung Payung Batu, Kecamatan Pubian minta Pemkab Lamteng buka jalur mendapatkan akses tanah lempung bahan utama pembuatan bata.

Itulah suara parau yang tidak didengar oleh para pejabat yang duduk di ruangan dingin ber AC dan gedung mewah, jeritan rakyat yang selama 30 tahun menjadi pengerajin bata dan genteng di wilayah yang berslogan Beguwai Jejamo Wawai.

Kepedihan mereka bukan tidak beralasan, Dengan tutup nya tempat penyuplai tanah lempung yang katanya termasuk galian C tidak berani beroperasi karena diindkasikan ilegal.

Menurut pengakuan Suyono Pemilik Tobong Bata di Kampung Payung Batu, Kecamatan Pubian, usahanya sudah 2 bulan ini berhenti tidak memproduksi batu bata.

“Ya mas sudah 2 Bulan ini pembuatan bata bolong di Kampung kami berhenti. Otomatis masyarakat Payung Batu yang 70 persen menggantungkan hidup dari pembuatan batu kelimpungan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, anak sekolah, dan lainnya,”jelas Suyono.

Untuk tobong bata Suyono dan pengerajin Batu Bata Bolong di Kampung Payung Batu, biasa mendapatkan pasokan bahan baku dari wilayah sekitar namun saat telah tutup.

“Dengan tidak adanya bahan baku bata saat ini jadi selama 2 bulan ini kita nganggur, sedang di satu tobong yang menggantungkan hidup itu kurang lebih 25 orang, seperti tenaga produksi, jasa angkut, dan pemasaran,”pungkasnya.

Pembuatan Batu Bata menjadi pekerjaan pokok warga Kampung Payung Batu, tentu dengan berhenti produksi tentu sangat terasa bagi warga setempat.

“Sebagian kawan yang tidak memiliki lahan pertanian ya ikut-ikut upahan harian itu pun tidak tiap hari, yang kasian kawan yang punya cicilan Bank atau kredit kendaraan pengangkut batu bata, jelas mumet mas,”tandasnya.

Mewakili keluhan pengerajin Batu Bata Bolong Kampung Payung Makmur, berharap Pemerintah Daerah maupun dinas terkait untuk memberikan solusi, jangan persulit perijinan bagi pengusaha alat berat agar lekas beroperasi.

“Kami masyarakat kecil bang, tau nya kerja dan kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi kalau bahan baku tidak ada bagaimana anak istri kami mau makan, dan usaha ini mau maju, untuk makan aja sulit,”imbuhnya.

Penyerapan tenaga kerja, dan jadi tumpuan masyarakat di sekitar maupun di dalam kampung bukan isu tapi itu fakta. Kalau satu tobong saja mampu menyerap penerima manfaat sampai 25 orang dengan 300 tobong di Kampung Batu sudah berapa orang meradang dan akan jadi pengangguran.

“Rentetannya banyak mas, penerima manfaat dari adanya tobong batu bata ini, seperti penjual limbah kayu untuk pembakaran bata, bongkar muat, produksi, jasa angkut, tidak sedikit sopir mengeluh karna tidak ada muatan, mobilkan harus bayar kalo dua bulan nganggur sudah berapa yang duit mas,”tegasnya.

Suyono dan rekan-rekan nya dalam waktu dekat akan melakukan audensi dengan pihak-pihak terkait dan pemangku kepentingan di Lampung Tengah.

“Terima kasih mas, dengan hadir media ini semoga jadi penyampai keluh kesah kami rakyat kecil, secepat nya kami akan melakukan konsolidasi dan menemui pihak-pihak terkait menyikapi hal ini,”tandasnya.

Exit mobile version