Bandar Lampung

Dorong Pendekatan Humanis, PKBI Latih Petugas Pendamping ABH di Lampung

22

Tintainformasi.com, Bandar Lampung — Upaya memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH), terus dijalankan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung. Salah satu upaya tersebut dilakukan dengan menggelar pelatihan pengasuhan bagi petugas yang menangani ABH. Pada pembukaan kegiatan ini, turut diluncurkan buku saku pendampingan berjudul “Mendampingi Bukan Menghakimi” serta buletin “Cerita dari Dinding Pembatas: Suara yang Tertahan.” yang berlangsung di Hotel Kyriad M2, Bandar Lampung, Rabu (6/5).

Pelatihan Pengasuhan ini merupakan bagian dari implementasi Program INKLUSI yang berfokus pada penguatan perlindungan, pemenuhan hak, serta pendekatan yang lebih inklusif terhadap Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH).

Direktur Eksekutif PKBI Nasional, Leny Jakaria, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan Program INKLUSI, khususnya dalam mendorong pendekatan pendampingan yang lebih ramah anak.

“Melalui program INKLUSI, kami ingin memastikan bahwa pendampingan terhadap anak dilakukan dengan perspektif yang lebih manusiawi, tidak menghakimi, dan berfokus pada pemulihan serta masa depan anak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Lampung, Dr. Maulidi Hilal, yang sekaligus membuka kegiatan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Ia mengucapkan terima kasih kepada PKBI atas inisiatif dan kontribusinya dalam mendukung penguatan kapasitas petugas, serta menyambut baik pelaksanaan pelatihan ini sebagai langkah positif dalam meningkatkan kualitas pendampingan bagi ABH.

“Kami menyambut baik kegiatan ini dan mengapresiasi upaya PKBI dalam menghadirkan pendekatan yang lebih humanis dalam pendampingan anak. Ini menjadi bagian penting dalam mendukung pembinaan yang lebih baik ke depan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan buku saku dan buletin tersebut dapat menjadi media pembelajaran sekaligus refleksi dalam memahami pengalaman ABH, serta mendorong terciptanya pendekatan pendampingan yang lebih responsif, inklusif, dan berkeadilan.

Exit mobile version