Bandar Lampung

Jejak Perjuangan Dr. Budiyono: Dari Aktivis Mahasiswa Menjadi Harapan Baru Universitas Lampung

30

Tentang Ketulusan, Pendidikan, dan Harapan

Tintainformasi.com, Bandar Lampung — Dr. Budiyono, S.H., M.H. lahir di Tanjungkarang pada 19 Oktober 1974 dari keluarga sederhana yang menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan pengabdian sejak usia dini. Putra dari Zaini Muqodam dan Harleni — keduanya pensiunan PNS — ini tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Dari sang ayah, ia belajar tentang tanggung jawab dan keteguhan memegang prinsip. Dari sang ibu, ia belajar arti kesederhanaan, kepedulian sosial, dan ketulusan membantu sesama.

Masa kecil Budiyono dijalani dengan penuh kesederhanaan. Ia bukan lahir dari keluarga elite, melainkan keluarga yang membangun kehidupan melalui kerja keras dan integritas. Nilai-nilai itulah yang membentuk karakter Budiyono menjadi pribadi yang tenang, bersahaja, dan memiliki komitmen kuat terhadap dunia pendidikan serta keadilan sosial.

Perjalanan intelektualnya dimulai di Fakultas Hukum Universitas Lampung. Di kampus inilah Budiyono muda tidak hanya ditempa melalui ruang akademik, tetapi juga melalui dinamika organisasi dan perjuangan mahasiswa. Semasa kuliah, ia aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung. Dari organisasi itu, ia belajar tentang kepemimpinan, demokrasi, keberanian menyampaikan gagasan, serta pentingnya memperjuangkan aspirasi secara bermartabat.

Selain aktif di organisasi intra kampus, Budiyono juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi ini turut membentuk watak intelektual dan spiritualnya sebagai insan akademis yang berpikir kritis, namun tetap berpijak pada nilai keumatan, kebangsaan, dan keadilan sosial. Pengalaman organisasi tersebut membentuk Budiyono menjadi sosok akademisi yang tidak eksklusif di menara gading, melainkan dekat dengan realitas masyarakat dan memahami denyut persoalan bangsa.

Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Lampung tahun 1998, Budiyono melanjutkan pendidikan Magister Hukum dan lulus tahun 2004. Semangat keilmuannya kemudian membawanya meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran pada tahun 2012. Sejak tahun 2004, ia mengabdikan diri sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung dan terus aktif mengajar, membimbing, meneliti, serta membangun kultur akademik yang sehat dan progresif.

Di lingkungan kampus, Budiyono dikenal sebagai dosen yang terbuka, komunikatif, dan mendorong mahasiswa berpikir kritis. Ia tidak membangun jarak dengan mahasiswa, melainkan hadir sebagai pendidik yang mau mendengar, berdiskusi, dan memberi ruang tumbuh bagi generasi muda. Sementara di kalangan akademisi, ia dikenal sebagai pribadi yang menjunjung integritas, mengedepankan musyawarah, dan mampu menjembatani berbagai kepentingan demi kemajuan institusi.

Pengalaman panjangnya sebagai akademisi, tenaga ahli, konsultan hukum, narasumber, hingga penggerak berbagai organisasi strategis di tingkat daerah maupun nasional semakin memperkuat reputasinya sebagai figur yang matang secara intelektual sekaligus berpengalaman dalam tata kelola kelembagaan.

Di tengah perjalanan pengabdiannya, nama Budiyono juga mulai diperbincangkan dalam konteks pencapaian akademik tertinggi sebagai guru besar. Sebagian kalangan menilai kapasitas, pengalaman, karya akademik, dan pengabdiannya selama puluhan tahun telah mencerminkan kualitas seorang profesor. Namun bagi Budiyono, gelar akademik bukanlah tujuan akhir pengabdian. Ia meyakini bahwa kehormatan seorang akademisi tidak hanya diukur dari jabatan atau titel, tetapi dari konsistensi dalam mengajar, membimbing, meneliti, dan memberi manfaat bagi masyarakat serta institusi. Karena itu, ia memilih tetap fokus bekerja dan mengabdi tanpa larut dalam polemik personal.

Sikap tenang dan dewasa itulah yang membuat banyak pihak menilai Budiyono sebagai sosok akademisi yang matang. Ia tidak menjadikan perdebatan sebagai ruang pertentangan, melainkan bagian dari dinamika intelektual yang harus dijawab melalui karya, integritas, dan dedikasi nyata.

Di balik kiprah akademiknya, Budiyono adalah sosok keluarga yang hangat. Bersama istrinya, Titiek Fitriyani yang juga mengabdi sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, ia membangun keluarga dengan nilai pendidikan, kedisiplinan, dan pengabdian. Nilai itu tercermin dalam perjalanan anak-anak mereka: M. Farel Firdiansyah Putra yang kini mengabdi sebagai jaksa, Fathiya Firdiansyah Putri yang melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Padjadjaran, serta M. Fadlan Firdiansyah Putra yang sedang menempuh pendidikan.

Komitmen Budiyono terhadap dunia pendidikan, integritas pribadi, pengalaman organisasi, serta kedekatannya dengan berbagai elemen kampus perlahan melahirkan simpati dan dukungan agar dirinya maju sebagai Rektor Universitas Lampung periode 2027–2031. Dukungan itu datang dari mahasiswa, akademisi, alumni, tokoh masyarakat, hingga berbagai kalangan yang mengenalnya sebagai sosok pemersatu dan pekerja nyata.

Banyak pihak menilai Budiyono memiliki kombinasi lengkap sebagai pemimpin perguruan tinggi: kuat secara akademik, matang dalam organisasi, memahami tata kelola birokrasi kampus, dekat dengan mahasiswa, serta memiliki jejaring luas di tingkat daerah maupun nasional. Di tengah tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompleks, sosok Budiyono dipandang mampu membawa Universitas Lampung menjadi kampus yang semakin berprestasi, berintegritas, dan berdampak bagi masyarakat.

Menanggapi dukungan yang terus mengalir, Budiyono menyampaikan bahwa dirinya menghormati setiap aspirasi yang berkembang. Baginya, memimpin Universitas Lampung bukan sekadar jabatan, melainkan amanah untuk membawa kampus semakin maju, bersih, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Jika mendapat kepercayaan memimpin Universitas Lampung periode 2027–2031, Budiyono menegaskan fokus utamanya adalah memperkuat kualitas akademik, riset, dan tata kelola institusi yang profesional serta berintegritas. Ia ingin menciptakan iklim akademik yang mampu mendorong seluruh potensi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan alumni berkembang lebih maksimal.

Salah satu gagasan besar yang ia dorong adalah pengembangan Kampus II Universitas Lampung di lahan sekitar 150 hektar sebagai smart and green campus yang menjadi pusat pendidikan, riset, inovasi, dan kolaborasi masa depan. Kampus tersebut diharapkan menjadi ruang lahirnya berbagai terobosan di bidang pertanian, teknologi, kesehatan, energi, hingga kewirausahaan.

Menurut Budiyono, ke depan Universitas Lampung juga harus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dunia usaha, serta memperluas jejaring nasional dan internasional. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dunia, industri, dan lembaga riset dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan inovasi di Universitas Lampung.

Ia juga menilai alumni Universitas Lampung merupakan kekuatan besar yang harus dirangkul bersama untuk memajukan almamater. Dengan semangat kolaborasi seluruh elemen kampus, Budiyono percaya Universitas Lampung dapat menjadi kampus kebanggaan Lampung sekaligus pusat kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan di Indonesia.

Karena itu, sosok Budiyono hari ini tidak hanya dipandang sebagai seorang dosen atau akademisi. Ia hadir sebagai figur intelektual yang tumbuh dari kesederhanaan, ditempa oleh organisasi, dibesarkan oleh nilai keluarga, dan konsisten menjaga integritas dalam pengabdian. Dari perjalanan panjang itulah lahir keyakinan banyak pihak bahwa Budiyono bukan sekadar layak memimpin Universitas Lampung, tetapi juga mampu membawa semangat baru bagi masa depan Unila yang lebih maju, inklusif, dan bermartabat.

Kamis, 21 Mei 2026

Exit mobile version