BERITAJakartaJMSINASIONAL

Ketua Umum JMSI: Jurnalisme Harus Berpihak pada Kemanusiaan, Bukan Sekadar Mengikuti Algoritma

39
×

Ketua Umum JMSI: Jurnalisme Harus Berpihak pada Kemanusiaan, Bukan Sekadar Mengikuti Algoritma

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum JMSI: Jurnalisme Harus Berpihak pada Kemanusiaan, Bukan Sekadar Mengikuti Algoritma

TINTA INFORMASI, JAKARTA – Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi utama dalam praktik jurnalistik. Menurutnya, bagi insan pers, mengedepankan aspek kemanusiaan bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan prinsip dasar yang wajib dijaga.

Pernyataan tersebut disampaikan Teguh saat menjadi pembicara dalam bedah buku Jurnalisme untuk Kemanusiaan karya Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Diskusi tersebut juga menghadirkan Pemimpin Redaksi CNN Indonesia Titin Rosmasari, Direktur tvMu Dr. Makroen Sanjaya, serta Ketua Lazismu Ahmad Mujadid Rais. Acara dibuka oleh Ketua PP Muhammadiyah Dadang Rahmad.

Dalam paparannya, Teguh memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut yang dinilainya sebagai kontribusi penting bagi pengembangan pemikiran jurnalistik di Indonesia.

Ia menilai judul Jurnalisme untuk Kemanusiaan lahir dari keprihatinan penulis terhadap praktik jurnalistik yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Padahal, menurut Teguh, esensi jurnalisme tidak dapat dipisahkan dari kepentingan publik dan kemanusiaan.

Baca juga:  Keluhan Masyarakat soal PPDB 2024 Sistem Zonasi Tingkat SMA

Dengan gaya khasnya yang santai, Teguh bahkan sempat berseloroh agar pada cetakan berikutnya ditambahkan kata “memang” sehingga judulnya menjadi Memang Jurnalisme untuk Kemanusiaan.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Teguh menekankan bahwa jurnalisme ideal tidak hanya berperan melaporkan dampak sebuah persoalan, tetapi juga ikut mengawal upaya pencegahannya.

“Jurnalisme tidak cukup hanya membantu korban kerusakan lingkungan. Ada persoalan di hulu yang harus ikut dikawal, misalnya memastikan kebijakan tata kelola lingkungan tidak merusak alam dan pembangunan tidak menciptakan ketimpangan sosial yang berujung pada persoalan kemanusiaan,” ujarnya.

Ia mengibaratkan fungsi jurnalisme bukan sekadar menjadi “pemadam kebakaran” setelah masalah terjadi, melainkan turut mencegah agar “kebakaran” itu tidak pernah muncul.

ADVERTISEMENT

Selain itu, Teguh juga mengingatkan tantangan besar yang dihadapi media pada era digital. Menurutnya, dominasi algoritma media sosial kerap mendorong media lebih fokus pada isu-isu yang bersifat sensasional, superfisial, dan artifisial, dibanding persoalan yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.

Karena itu, ia mengajak seluruh insan pers untuk tidak terjebak menjadi “budak algoritma” dan tetap menempatkan isu-isu kemanusiaan sebagai prioritas utama dalam pemberitaan.

Baca juga:  Persatuan Korban Bumi Putera Indonesia (PKBI) Memberikan Laporan Secara Terbuka

Di akhir pemaparannya, Teguh berharap diskusi tersebut menjadi momentum bagi pengelola media untuk kembali meneguhkan komitmen bahwa tugas utama jurnalisme adalah melayani kepentingan publik dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Tawarkan Paradigma Jurnalisme Filantropi

ADVERTISEMENT

Sementara itu, penulis buku, Dr. Roni Tabroni, menjelaskan bahwa Jurnalisme untuk Kemanusiaan merupakan kelanjutan dari karya sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada aspek teoretis.

Menurutnya, buku terbaru ini lahir dari dua realitas yang selama ini berjalan berdampingan, yakni tantangan dunia jurnalistik yang tengah mengalami krisis relevansi di tengah disrupsi digital dan besarnya potensi filantropi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai salah satu yang paling dermawan di dunia.

“Berangkat dari dua realitas besar yang selama ini berjalan beriringan namun jarang dipertemukan secara sistematis, yakni dunia jurnalisme yang tengah kehilangan relevansi sosialnya di era disrupsi digital, dan Indonesia sebagai negara dengan masyarakat paling dermawan di dunia,” ujarnya.

Melalui buku tersebut, Roni menawarkan paradigma baru berupa jurnalisme filantropi yang tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi katalisator perubahan sosial.

Baca juga:  Tanam Ganja Hidroponik Didalam Lemari, Wanita Berprofesi Sebagai Pengisi SEO WEB Diringkus Satres Narkoba Polres Jakbar

Ia menjelaskan, buku itu memuat berbagai pendekatan konseptual hingga panduan praktis, mulai dari framework Zona Merah, Kuning, dan Hijau, hingga konsep P3 (Penyadaran, Pemberdayaan, dan Perubahan), yang dirancang sebagai pedoman operasional dalam peliputan berbasis data dan narasi yang berdampak.

“Buku ini dirancang agar dapat dipraktikkan oleh lembaga maupun individu. Harapannya dapat menjadi referensi bagi akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi media, aktivis filantropi, hingga konten kreator yang ingin menjadikan karya mereka sebagai instrumen perubahan sosial,” kata Roni.

Roni Tabroni merupakan dosen tetap Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) yang aktif di bidang komunikasi, media, dan kebijakan publik. Selain menjabat Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah periode 2022-2027, ia juga memimpin Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik UM Bandung serta aktif di sejumlah organisasi profesi, termasuk Aspikom, ISKI Jawa Barat, Ikatan Jurnalis Indonesia (Ikaji), dan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) UMJ. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™