Banner Top Up Produk Digital
BeritaOpini

Klasika Lampung Nilai Festival Krakatau 2026 Minim Ruang Edukasi

42
×

Klasika Lampung Nilai Festival Krakatau 2026 Minim Ruang Edukasi

Sebarkan artikel ini
Klasika Lampung Nilai Festival Krakatau 2026 Minim Ruang Edukasi

TINTA INFORMASI, Lampung – Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menilai penyelenggaraan Festival Krakatau 2026 masih terlalu berorientasi pada kegiatan seremonial dan hiburan. Agenda tahunan yang mengusung nama Krakatau tersebut dinilai seharusnya tidak hanya menjadi ajang promosi pariwisata, tetapi juga menjadi ruang edukasi publik mengenai sejarah, kebencanaan, dan identitas masyarakat Lampung.

Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, mengatakan Festival Krakatau memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan nilai-nilai pembelajaran dari peristiwa letusan Gunung Krakatau 1883, yang menjadi salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah dunia.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

“Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan. Ia harus menjadi tuntunan. Peristiwa letusan Krakatau 1883 bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran penting tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan,” ujar Mufid.

Festival Krakatau 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25 hingga 30 Agustus 2026 dengan pusat kegiatan di Lapangan Saburai, Enggal, Kota Bandar Lampung. Festival ini merupakan bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) yang menampilkan beragam kegiatan, mulai dari festival band, solo song, dance competition, Mengan Balak, Seruit Battle, Krakatau Run, festival mewarnai, karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, festival kuliner, Pesona Kemilau Krakatau, tur edukasi Gunung Anak Krakatau, balap perahu, lomba layang-layang, hingga pameran seni rupa dan kerajinan lokal.

Baca juga:  ‎Kemenag Kecolongan: Penyelewengan Anggaran MAN 1 Kota Agung Tembus Miliaran Rupiah‎

Meski mengapresiasi beragam kegiatan yang mampu menarik partisipasi masyarakat dan wisatawan, Klasika menilai aspek edukasi yang mengangkat sejarah letusan Krakatau serta dampaknya terhadap masyarakat Lampung masih belum mendapat porsi yang memadai.

Sebagai bentuk penguatan substansi festival, Klasika mengusulkan agar panitia menghadirkan Dr. Suryadi, akademisi dari Universitas Leiden, Belanda, yang dikenal sebagai peneliti naskah Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh.

Menurut Mufid, naskah tersebut merupakan salah satu dokumen sejarah paling penting yang merekam secara detail dampak letusan Gunung Krakatau 1883 dari perspektif masyarakat lokal.

“Teks ini merupakan reportase pribumi yang mendokumentasikan kengerian dan kedahsyatan letusan Gunung Krakatau 1883, menggabungkan nilai sejarah, catatan ilmiah, dan jurnalistik,” jelasnya.

Ia menilai Syair Lampung Karam bukan hanya karya sastra, tetapi juga sumber pengetahuan lokal yang memiliki nilai historis tinggi. Keberadaan naskah tersebut dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran sejarah sekaligus memperkuat literasi kebencanaan berbasis pengalaman masyarakat Lampung.

Klasika mengingatkan bahwa apabila Festival Krakatau terus berjalan tanpa penguatan aspek edukasi, maka makna historis di balik nama Krakatau berpotensi semakin memudar. Festival dikhawatirkan hanya dikenal sebagai agenda hiburan tahunan tanpa memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat.

“Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai festival, tetapi lupa bahwa di baliknya ada tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung,” tegas Mufid.

Oleh karena itu, Klasika mendorong Pemerintah Provinsi Lampung, penyelenggara Festival Krakatau, serta seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan ruang-ruang edukasi yang lebih kuat dan terstruktur dalam penyelenggaraan festival, seperti diskusi publik, seminar sejarah, pameran arsip dan manuskrip, pemutaran film dokumenter, hingga kolaborasi dengan akademisi, sejarawan, dan peneliti.

Dengan penguatan tersebut, Festival Krakatau diharapkan tidak hanya menjadi agenda unggulan sektor pariwisata, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran sejarah, pelestarian memori kolektif, serta penguatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™