TINTAINFORMASI.COM, OKI — Wajah bahagia terlihat di tengah masyarakat Desa Kuala 12, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pembangunan jembatan sepanjang sekitar 120 meter yang menghubungkan tiga dusun di wilayah tersebut akhirnya memasuki tahap peluncuran.
Kehadiran jembatan perintis ini menjadi angin segar bagi sekitar 110 kepala keluarga atau kurang lebih 1.100 jiwa yang selama ini menghadapi keterbatasan akses penyeberangan. Bagi warga, jembatan tersebut bukan sekadar infrastruktur, melainkan jalan baru menuju aktivitas yang lebih mudah dan aman.
Dandim 0402/OKI-OI Letkol Inf Gunawan Wibisono, S.H., mengatakan jembatan tersebut diharapkan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam mendukung mobilitas sehari-hari.
“Jembatan ini menghubungkan tiga dusun di Desa Kuala 12 dengan panjang 120 meter. Penerima manfaat kurang lebih 110 kepala keluarga atau sekitar 1.100 orang. Ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Gunawan.
Salah satu manfaat yang paling dirasakan adalah kemudahan bagi anak-anak untuk bersekolah. Sebelum jembatan dibangun, mereka harus menyeberangi sungai menggunakan perahu. Bahkan, dalam kondisi tertentu, sarana sederhana seperti styrofoam turut digunakan.
“Semula anak-anak menggunakan styrofoam. Sekarang sudah ada jembatan perintis ini sehingga anak-anak sekolah menuju ke sekolah bisa dimudahkan,” katanya.
Kondisi tersebut selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi warga Kuala 12. Keterbatasan akses membuat aktivitas masyarakat sangat bergantung pada sarana penyeberangan. Selain membutuhkan waktu, penggunaan perahu juga membuat warga harus mengeluarkan biaya.
Kini, keberadaan jembatan membuat masyarakat dapat menyeberang dengan berjalan kaki tanpa harus mengeluarkan ongkos perahu. Perubahan sederhana tersebut membawa dampak yang cukup besar bagi kehidupan sehari-hari warga.
Salah seorang warga, Betran, mengaku sangat terbantu dengan pembangunan jembatan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan TNI yang telah membantu menghadirkan akses yang selama ini menjadi kebutuhan masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih karena jembatan ini sangat membantu masyarakat. Selama ini kalau mau menyeberang harus menggunakan perahu dan mengeluarkan biaya. Sekarang sudah bisa berjalan kaki,” ujar Betran.
Menurut Betran, manfaat jembatan tidak hanya dirasakan dalam hal mobilitas. Anak-anak kini dapat berangkat sekolah dengan lebih mudah, sementara warga juga lebih leluasa menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Sekarang kami merasa senang. Anak-anak juga lebih mudah pergi ke sekolah. Mudah-mudahan jembatan ini terus dijaga dan bisa digunakan masyarakat dalam waktu yang lama,” tambahnya.
Kebahagiaan juga dirasakan Ilya, salah seorang murid sekolah. Bagi dirinya dan anak-anak lainnya, jembatan tersebut menjadi akses penting untuk menuju sekolah tanpa harus menghadapi risiko menyeberangi sungai menggunakan sarana sederhana.
Bagi anak-anak Kuala 12, jembatan itu bukan hanya penghubung antardusun. Lebih dari itu, jembatan menjadi akses menuju pendidikan yang lebih aman dan mudah.
Dampaknya juga diharapkan merambah sektor ekonomi. Dengan mobilitas yang semakin lancar, masyarakat dapat mengurangi biaya penyeberangan serta memiliki akses yang lebih terbuka untuk membawa dan memasarkan hasil usaha mereka.
Gunawan menjelaskan, pembangunan jembatan di Kuala 12 merupakan bagian dari rangkaian pengerjaan tujuh jembatan. Dari total tersebut, dua jembatan dibangun sebagai jembatan perintis, sedangkan lima lainnya menggunakan konstruksi beton.
“Ini merupakan launching jembatan yang ketujuh dari tujuh jembatan yang kita kerjakan,” jelasnya.
Dalam kegiatan pemantauan di lokasi, sekitar 15 personel turut terlibat dalam pengawasan dan pemantauan pengerjaan.
Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat di wilayah dengan tantangan geografis. Infrastruktur dasar seperti jembatan memiliki peran penting dalam memperkuat konektivitas, terutama bagi masyarakat yang selama ini berada di kawasan dengan akses terbatas.
Rangkaian peluncuran jembatan itu juga mengusung semangat “Negara Hadir untuk Rakyat”, sejalan dengan program pembangunan ribuan titik jembatan dan penyediaan sarana air bersih di berbagai daerah.
Bagi masyarakat Kuala 12, manfaat pembangunan itu terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Jarak yang sebelumnya harus ditempuh dengan perahu kini dapat dilalui dengan berjalan kaki. Anak-anak tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan saat berangkat sekolah, sementara aktivitas warga menjadi lebih praktis.
Gunawan pun mengingatkan masyarakat agar bersama-sama menjaga dan merawat jembatan tersebut.
“Bantuan pembangunan jembatan ini dari Bapak Presiden. Semoga bisa bermanfaat dan terus dirawat. Apabila dirawat dengan baik, pemanfaatannya bisa lebih lama dan sangat bermanfaat bagi masyarakat ke depannya,” katanya.
Ucapan terima kasih pun disampaikan masyarakat. Mereka berharap hadirnya jembatan menjadi langkah awal bagi semakin terbukanya akses pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga pelayanan publik bagi warga di tiga dusun yang kini telah terhubung.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan TNI. Jembatan ini sangat membantu kami. Kami berharap masyarakat juga ikut menjaga agar jembatan ini tetap baik dan bisa digunakan anak-anak serta masyarakat untuk waktu yang panjang,” kata Betran.
Kini, jembatan sepanjang 120 meter itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya. Bagi warga Kuala 12, jembatan tersebut menjadi penghubung antardusun, jalan bagi anak-anak menuju sekolah, akses bagi masyarakat menjalankan aktivitas, sekaligus membuka harapan baru bagi tumbuhnya perekonomian keluarga. (rls)
