Banner Top Up Produk Digital
BeritaDaerahPringsewu

Bupati Pringsewu Ajak Semua Pihak Wujudkan Sekolah Aman dan Bebas Bullying

43
×

Bupati Pringsewu Ajak Semua Pihak Wujudkan Sekolah Aman dan Bebas Bullying

Sebarkan artikel ini
Bupati Pringsewu Ajak Semua Pihak Wujudkan Sekolah Aman dan Bebas Bullying

TINTA INFORMASI | PRINGSEWU – Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama tenaga pendidik dan orang tua, memperkuat kolaborasi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, ramah anak, serta bebas dari perundungan atau bullying.

Ajakan tersebut disampaikan Riyanto saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendampingan, Penanganan, dan Pencegahan Kekerasan, Perundungan, dan Intoleransi Jenjang Sekolah Dasar Tahun 2026 di Hotel Urban Pringsewu, Senin (12/10/2026).

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Kegiatan tersebut diikuti kepala sekolah dasar negeri dan swasta. Pemerintah Kabupaten Pringsewu menghadirkan narasumber dari berbagai unsur, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas P3AP2KB, Kepolisian, dan Kejaksaan.

Dalam sambutannya, Riyanto menegaskan bahwa perundungan bukan persoalan sepele yang dapat dianggap sebagai candaan atau kenakalan anak. Menurutnya, tindakan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ejekan, pengucilan, kekerasan fisik, hingga perundungan melalui media sosial.

Karena itu, ia meminta para pendidik dan orang tua meningkatkan perhatian terhadap kondisi psikologis anak. Perundungan, baik yang terjadi secara langsung maupun di ruang digital, dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental anak apabila tidak segera dicegah dan ditangani.

Baca juga:  Mahasiswa Gelar Aksi Evaluasi Kinerja Bupati Egi di Lampung Selatan

“Masalah kesehatan mental pada anak-anak perlu menjadi perhatian kita bersama. Gen Alpha adalah anak-anak kita hari ini, mulai dari usia PAUD hingga SD dan SMP. Mereka tumbuh bersama gawai dan media sosial dengan tekanan yang berbeda dari masa kecil kita,” ujar Riyanto.

Guru dan Orang Tua Berperan Penting

Riyanto mengatakan perkembangan teknologi membuat tantangan yang dihadapi anak semakin kompleks. Oleh sebab itu, lingkungan sekolah dan keluarga harus mampu menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi anak.

Ia juga mengingatkan bahwa perundungan dapat memengaruhi kepercayaan diri dan perkembangan psikologis peserta didik. Karena itu, guru dan orang tua perlu mengenali tanda-tanda ketika anak mengalami kekerasan atau perundungan.

Dalam kesempatan tersebut, Riyanto mengutip teori perkembangan psikososial Erik Erikson yang menyebut anak usia 6–12 tahun berada pada fase perkembangan antara kemampuan dan rasa rendah diri.

Pada tahap tersebut, dukungan lingkungan menjadi penting untuk membantu anak membangun kepercayaan diri, kemampuan, serta karakter positif.

“Orang tua dan guru adalah busur yang harus kokoh agar anak panah meluncur lurus menuju masa depannya. Untuk menjadi busur yang kokoh, tentu dibutuhkan peran semua pihak,” katanya.

Menurut Riyanto, pelaksanaan Bimtek menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kapasitas pendidik dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan dan pengasuhan di era digital.

Ia berharap para kepala sekolah dan tenaga pendidik dapat menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, mengenali indikasi perundungan, memberikan pendampingan kepada korban, serta menangani setiap laporan secara tepat sesuai ketentuan yang berlaku.

“Marilah kita bersama-sama mewujudkan Pringsewu yang bebas dari perundungan, sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, saling menghargai, dan siap menjadi generasi emas Indonesia 2045,” ajaknya.

Perkuat Perlindungan Peserta Didik

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pringsewu, Iswanto, S.Pd., menjelaskan bahwa Bimtek tersebut bertujuan memperkuat perlindungan peserta didik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, kegiatan tersebut memberikan pemahaman kepada para pendidik mengenai langkah pencegahan dan penanganan kekerasan, perundungan, serta intoleransi di lingkungan sekolah.

Bimtek juga diarahkan untuk memastikan hak-hak anak terpenuhi sekaligus menciptakan mekanisme penanganan yang tepat apabila terjadi kasus kekerasan terhadap peserta didik.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Ahli Bupati Pringsewu Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Dra. Titik Puji Lestari, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pringsewu Dr. Supriyanto, serta jajaran Disdikbud Kabupaten Pringsewu.

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Pringsewu berharap sekolah mampu membangun lingkungan yang aman dan ramah anak. Dengan demikian, setiap peserta didik dapat belajar, berkembang, membangun kepercayaan diri, dan meraih prestasi tanpa rasa takut terhadap kekerasan maupun bullying. (aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™