BERITALampungTanggamus

Pelukis Bambang Suroboyo Hidupkan Kembali Kejayaan Maritim Nusantara Lewat Lukisan “Kapal Jung Jawa Kuno”

347
×

Pelukis Bambang Suroboyo Hidupkan Kembali Kejayaan Maritim Nusantara Lewat Lukisan “Kapal Jung Jawa Kuno”

Sebarkan artikel ini

Tintainformasi.com, Tanggamus — Pelukis Bambang Suroboyo atau Bambang SBY kembali menyapa publik seni dengan karya terbarunya bertajuk “Kapal Jung Jawa Kuno”, yang dipresentasikan pada Minggu (7/12/2025). Karya tersebut tak hanya menampilkan kejayaan maritim Nusantara, tetapi juga merangkum proses panjang riset, spiritualitas, dan inovasi material yang digarap Bambang selama bertahun-tahun.

Salah satu keistimewaan karya ini terletak pada media kanvas yang digunakan. Bambang menciptakannya sendiri dari campuran bahan organik dan anorganik asal Lampung—mulai dari akar, getah, hingga mineral batu—yang kemudian ia beri nama Swarna Tirta Jenggala (STJ).

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Dalam bahasa Jawa kuno, istilah itu bermakna “air emas dari hutan kerajaan”. Penemuan tersebut berawal dari penelitian konservasi seni di Galeri Nasional Indonesia, yang awalnya bertujuan merumuskan pelindung lukisan berbasis air. Namun proses itu justru membawanya pada penemuan yang ia maknai sebagai rahmat spiritual.

“Ini hasil rahmat Allah. Saya hanya perantara yang dituntun untuk menemukan bahan dari alam Lampung. Tuhan tumbuhkan akar, getah, dan batu mineral, lalu Dia izinkan kita mempelajari rahasia-Nya,” ujar Bambang SBY.

Bahan STJ kini menjadi inovasi yang diperhitungkan. Kanvas ini tahan lembab, lentur, tidak mudah retak meski menghadapi perubahan suhu ekstrem, dan diperkirakan dapat bertahan puluhan hingga ratusan tahun tanpa perawatan khusus. Keunggulan tersebut menjadikannya alternatif ramah lingkungan bagi damar atau getah pinus yang lazim dipakai dalam konservasi karya seni.

Kelahiran STJ memberi dimensi baru dalam seni rupa modern. Teksturnya yang khas membuat sapuan kuas tampak hidup dan memberi kesan spiritual, seolah menghadirkan kembali memori kejayaan Nusantara di atas permukaan lukisan.

Lukisan “Kapal Jung Jawa Kuno” sendiri berangkat dari catatan sejarah tentang dominasi pelaut Nusantara pada abad ke-15 hingga ke-16. Pada masa itu, jung Jawa dikenal jauh lebih besar dan lebih kuat dibanding kapal-kapal Portugis yang memasuki perairan Asia Tenggara.

Jung Jawa dapat mencapai panjang sekitar 76 hingga 80 meter dengan bobot lebih dari seribu ton serta mampu mengangkut ratusan orang. Sementara kapal Portugis pada era yang sama rata-rata hanya berukuran beberapa puluh meter dengan bobot ratusan ton dan kapasitas angkut yang jauh lebih kecil.

Jung Jawa dibangun tanpa paku. Badannya disusun dari papan-papan tebal yang dipasak berlapis sehingga menciptakan struktur raksasa yang kokoh dan lentur menghadapi ombak.

Keunggulan teknologi ini sempat membuat bangsa Portugis terkejut ketika pertama kali menyaksikannya di Selat Malaka. Namun seiring dominasi kolonial, teknologi tersebut perlahan hilang, menyisakan legenda dalam sejarah maritim Nusantara.

Melalui karya terbarunya, Bambang ingin mengajak publik kembali memahami bahwa kejayaan bangsa tidak semata lahir dari kemewahan, tetapi dari ilmu pengetahuan dan rasa syukur.

“Kita pernah menjadi bangsa yang mengajarkan dunia tentang laut, tentang teknologi, tentang perdagangan. Jangan biarkan sejarah ini hanya menjadi cerita, tapi jadikan ia pelajaran untuk bangkit,” tutupnya. (HD).

Memuat judul...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *