TINTA INFORMASI | BANDUNG — Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan sistem otomasi telah mengubah lanskap keamanan global dan regional. Perubahan tersebut turut menggeser pola peperangan konvensional yang selama ini mengandalkan keunggulan jumlah personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) berat menuju Asymmetric & Network-Centric Warfare atau peperangan asimetris berbasis jaringan.
Perkembangan konflik di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bagaimana teknologi seperti pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta perang siber (cyber warfare) semakin menentukan dinamika operasi militer di lapangan.
Bahkan, drone komersial yang dimodifikasi dengan biaya relatif rendah dapat digunakan untuk menghadapi sistem pertahanan yang memiliki nilai jauh lebih besar. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekuatan pertahanan masa depan tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi juga pada kemampuan suatu negara beradaptasi dan mengembangkan inovasi teknologi.
Dalam kondisi tersebut, komunitas keinsinyuran memiliki posisi strategis. Insinyur tidak lagi hanya berperan sebagai pendukung teknis dan logistik, tetapi juga dituntut menjadi bagian penting dalam merancang serta mengembangkan teknologi untuk memperkuat kedaulatan pertahanan nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk “Insinyur Sebagai Garda Depan Disrupsi Teknologi Pertahanan” yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bekerja sama dengan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) di Auditorium Unjani, Cimahi, Jawa Barat, Senin (19/10/2026).
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) 2026 yang berlangsung di Bandung pada 20-22 Oktober 2026.
Insinyur Dituntut Kuasai Teknologi Pertahanan
Ketua Umum PII sekaligus Chairman ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO), Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU., ASEAN Eng., mengatakan perkembangan teknologi pertahanan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan era sebelumnya.
Menurut Ilham, kecerdasan buatan, sistem otonom, teknologi drone, keamanan siber, hingga material canggih telah mengubah wajah industri pertahanan dunia.
“Kita sedang berada dalam era ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Artificial Intelligence, autonomous systems, drone technology, cybersecurity, hingga advanced materials telah mengubah wajah industri pertahanan dunia,” ujar Ilham.
Ia menegaskan, teknologi pertahanan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan kepemilikan persenjataan. Penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan inovasi, serta kemandirian industri nasional justru menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan pertahanan.
Karena itu, Ilham mendorong insinyur Indonesia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi.
“Insinyur bukan hanya pengguna teknologi, tetapi harus menjadi perancang, pengembang, dan pencipta teknologi. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi pertahanan global. Indonesia harus mampu membangun, menguasai, dan mengembangkan teknologinya sendiri,” katanya.
Ilham juga mengutip data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang menunjukkan belanja militer dunia pada 2025 mencapai hampir US$2,9 triliun. Sementara itu, penjualan persenjataan dan jasa militer dari 100 perusahaan terbesar dunia mencapai sekitar US$679 miliar.
Di kawasan Asia Tenggara, belanja militer tercatat sekitar US$67 miliar, sedangkan Indonesia mencapai sekitar US$15 miliar.
Menurut Ilham, besarnya aktivitas ekonomi sektor pertahanan tersebut menunjukkan adanya peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Kebutuhan pertahanan harus mampu diterjemahkan menjadi penguasaan teknologi, peningkatan pesanan kepada industri nasional, serta penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Lemhannas: Insinyur Harus Jadi Strategic Technology Leader
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Dr. H. Tubagus Ace Hasan Syadzily, M.Si., mengatakan perubahan teknologi militer yang berlangsung cepat menuntut insinyur pertahanan melakukan transformasi peran.
Ia mendorong insinyur tidak hanya berfungsi sebagai technology developer, tetapi berkembang menjadi strategic technology leader.
Menurut Tubagus, sektor pertahanan membutuhkan inovasi dan adaptasi yang berlangsung secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadi bagian penting untuk menghadapi perkembangan teknologi militer yang semakin kompleks.
“Tema ‘Insinyur Sebagai Garda Depan Disrupsi Teknologi Pertahanan’ bukan hanya sekadar tema konferensi, tetapi menjadi sebuah sejarah karena kita tahu bahwa kedaulatan juga harus dijaga melalui kedaulatan teknologi, kedaulatan data, kedaulatan industri, dan kedaulatan pengetahuan,” ujar Tubagus.
Ia menilai kedaulatan negara pada era teknologi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan menguasai teknologi, data, industri, dan pengetahuan.
Empat Peran Strategis Insinyur
Sementara itu, Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Laksda TNI Dr. Ir. Sri Yanto, S.T., IPU., M.Si. (Han), menilai insinyur memiliki peran strategis dalam membangun kedaulatan teknologi pertahanan.
Ia menyebut setidaknya terdapat empat peran utama yang harus dijalankan para insinyur.
“Insinyur mempunyai peran sebagai benteng utama teknologi pertahanan negara (Guardians of Sovereignty), pengembangan sistem (Innovation Catalyst), penguat komponen lokal dalam rantai pasok (Supply Chain Enabler), dan penggerak kolaborasi (Regional Bridge),” ujar Sri Yanto saat menyampaikan keynote speech.
Keempat peran tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri pertahanan tidak hanya membutuhkan kemampuan menciptakan teknologi, tetapi juga membutuhkan ekosistem industri, rantai pasok nasional, serta kolaborasi lintas negara.
Belajar dari Konflik dan Peperangan Asimetris
Seminar tersebut juga membahas berbagai pelajaran strategis dari konflik yang terjadi di Timur Tengah dan sebagian wilayah Asia selama 2024 hingga 2025.
Dosen Program Studi Peperangan Asimetris Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI, Dr. Yono Reksoprodjo, DIC., menyebut terdapat enam pelajaran strategis yang dapat dipelajari dari perkembangan konflik tersebut.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah persoalan pembiayaan perang. Menurut Yono, kemampuan pembiayaan dapat memengaruhi keputusan operasi militer, termasuk ketersediaan amunisi, logistik, dan personel.
“Kalau dilihat dari enam sintesis ini, pembiayaan dalam melakukan perang antarnegara sangat menentukan keputusan operasi di lapangan yang akan berdampak pada persediaan amunisi, logistik, dan prajurit,” kata Yono.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan sebuah negara mempertahankan rantai pasok dan keberlanjutan operasi.
PII dan Unjani Dorong Kolaborasi Keinsinyuran
Rektor Unjani Prof. Dr. Agus Subagyo, S.I.P., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada PII yang telah menyelenggarakan seminar tersebut.
Menurut Agus, kegiatan itu membuka peluang bagi Unjani untuk memperluas kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan teknologi dan bidang keinsinyuran.
“Terima kasih kepada PII yang telah menyelenggarakan seminar ini. Hal ini menjadi kesempatan bagi Unjani untuk dapat mengembangkan kerja sama dengan stakeholders yang lebih luas,” kata Agus.
Seminar tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal PII Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ACPE, ASEAN Eng., Direktur Eksekutif PII Ir. Santhi H. Serad, M.Sc., IPU., ASEAN Eng., yang juga menjabat Chair CAFEO 44, serta para insinyur dari berbagai daerah di Indonesia.
Para insinyur tersebut juga mengikuti Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PII 2026 yang berlangsung setelah seminar di Auditorium Unjani.
Selain keynote speaker, seminar menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dipl. Ing. Heri Puryanto, MM., Wakil Direktur Utama PT Pindad; Dr. Ir. Jupriyanto, S.T., S.H., M.T., IPU., ASEAN Eng., ACPE., Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional; Prof. Dr. Ir. Damawidjaya Biksono, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., Wakil Rektor II Bidang PROGAR dan KU Unjani; M. Yahya Pratama, S.T., M.T., General Manager at Office of The Board Division PT PAL Surabaya; serta Dr. Yono Reksoprodjo, DIC., Dosen Program Studi Peperangan Asimetris Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI.
Diskusi dipandu Moderator Dr. Ir. Novky Asmoro, S.T., M.Si. (Han), IPU., ASEAN Eng., Kepala Program Studi S3 Pertahanan Universitas Pertahanan.
Dua Buku Teknologi Pertahanan Diluncurkan
Dalam rangkaian seminar tersebut, PII juga meluncurkan dua buku yang membahas teknologi dan inovasi pertahanan karya para insinyur Indonesia.
Buku pertama berjudul “Pertarungan Algoritma di Timur Tengah: Rekayasa Balik Keinsinyuran” karya Gilarsi W. Setijono dan Teguh Haryono.
Buku kedua berjudul “Rencana Inovasi Pertahanan: Integrasi SSM, Benchmarking, dan Sapta Helix Menuju Kemandirian Pertahanan Indonesia” karya Teguh Haryono dan Ade Mirza Roslinawati.
Peluncuran kedua buku tersebut melengkapi agenda seminar yang menempatkan keinsinyuran sebagai bagian penting dalam menghadapi disrupsi teknologi pertahanan.
Melalui forum tersebut, PII menekankan pentingnya memperkuat kemampuan nasional dalam mengembangkan teknologi pertahanan. Tantangannya kini bukan hanya mengejar perkembangan teknologi global, tetapi memastikan Indonesia memiliki kemampuan untuk merancang, mengembangkan, memproduksi, serta menguasai teknologi strategis secara mandiri. (rls)
