Scroll untuk baca artikel
Banner Top Up Produk Digital
BeritaEditorial

Kota di Bawah Air: Banjir Bandar Lampung

446
×

Kota di Bawah Air: Banjir Bandar Lampung

Sebarkan artikel ini
Kota di Bawah Air: Banjir Bandar Lampung
Gambar: Ilustrasi

Bandar Lampung, TINTA INFORMASI – Banjir di Bandar Lampung bukan cerita baru. Namun, setiap kali air naik dan merendam rumah warga, narasinya selalu sama: hujan deras jadi tersangka utama. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, hujan hanyalah pemicu—bukan akar masalah.

Bayangkan ini seperti ember bocor. Kita terus menuangkan air, lalu heran kenapa lantai basah. Alih-alih memperbaiki ember, kita malah menyalahkan air. Begitulah wajah penanganan banjir selama ini—reaktif, bukan preventif.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Banjir terbaru yang melanda puluhan titik di kota ini menjadi alarm keras. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah ini benar-benar kejadian luar biasa, atau justru sesuatu yang sudah lama “diundang”?

Dari Drainase hingga Tata Kota

Jika ingin jujur, masalah banjir di Bandar Lampung adalah kombinasi yang “sempurna”—dalam arti buruk. Drainase yang tidak memadai, tata kota yang amburadul, dan pengelolaan lingkungan yang setengah hati bersatu menciptakan bencana yang berulang.

Pertama, soal drainase. Banyak saluran air yang dangkal, sempit, bahkan tersumbat. Dalam kondisi normal saja sudah kewalahan, apalagi saat hujan ekstrem. Air tidak punya tempat pergi, akhirnya ia memilih jalan paling logis: masuk ke rumah warga.

Baca juga:  Keluarga Pengurus PWI Lampung Mengaku Diancam Tetangga Usai Menegur Suara Bising

Kedua, alih fungsi lahan. Ruang terbuka hijau yang dulu berfungsi sebagai daerah resapan kini berubah menjadi beton dan aspal. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah kini langsung meluncur deras ke permukiman. Kota kehilangan “spons alaminya”.

Ketiga, kondisi sungai. Sedimentasi membuat banyak sungai dangkal. Lebih parah lagi, beberapa bagian menyempit akibat pembangunan liar. Ini seperti memperkecil selang air tapi berharap debit tetap lancar—jelas mustahil.

Ada satu cerita yang sering terdengar dari warga: “Dulu di sini tidak pernah banjir.” Kalimat sederhana itu sebenarnya menyimpan kritik tajam. Artinya, masalah ini bukan takdir, tapi hasil keputusan manusia.

Banjir Tidak Sekadar Air

Bagi sebagian orang, banjir mungkin hanya terlihat sebagai genangan air. Namun bagi warga terdampak, ini adalah krisis kehidupan.

Rumah terendam berarti kehilangan tempat aman. Barang rusak berarti kerugian ekonomi. Aktivitas terhenti berarti pendapatan hilang. Belum lagi ancaman penyakit pasca banjir yang sering datang diam-diam.

Yang paling menyakitkan, dampak ini tidak merata. Warga kelas bawah selalu jadi korban utama. Mereka tinggal di daerah rawan karena pilihan terbatas, lalu harus menanggung risiko terbesar.

Baca juga:  Polemik Trotoar dan Halte di Bandar Lampung GEPAK Ajak Publik Nilai Secara Objektif

Ada ironi di sini. Kota berkembang, gedung berdiri, ekonomi bergerak. Namun di sisi lain, ada warga yang harus mengungsi setiap kali hujan deras datang. Seolah-olah, kemajuan itu tidak pernah benar-benar menyentuh mereka.

Ketika Solusi Hanya Tambal Sulam

ADVERTISEMENT

Penanganan banjir selama ini cenderung bersifat jangka pendek. Normalisasi sungai dilakukan, drainase diperbaiki sebagian, bantuan disalurkan. Semua terlihat bergerak, tapi hasilnya? Banjir tetap datang setiap tahun.

Masalahnya ada pada pendekatan. Kita sibuk memadamkan api, tapi lupa mencari sumber percikan. Tanpa perubahan sistemik, semua upaya hanya seperti menambal ban bocor tanpa pernah mengganti bannya.

Lebih jauh lagi, ada persoalan kebijakan. Perencanaan tata ruang sering kali tidak konsisten. Pembangunan berjalan, tetapi tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Akibatnya, kota tumbuh, tapi tidak siap menghadapi konsekuensinya.

ADVERTISEMENT

Jika dibiarkan, ini bukan lagi sekadar masalah banjir. Ini adalah krisis kepercayaan publik terhadap pengelolaan kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™