Banner Top Up Produk Digital
BeritaTanggamus

Etika Mahasiswa KKN Darmajaya Dikeluhkan Kepala Pekon Sinar Jawa

84
×

Etika Mahasiswa KKN Darmajaya Dikeluhkan Kepala Pekon Sinar Jawa

Sebarkan artikel ini
Etika Mahasiswa KKN Darmajaya Dikeluhkan Kepala Pekon Sinar Jawa
Photo: Hadi Hariyanto, Kepala Pekon Sinar Jawa

TINTA INFORMASI, Lampung – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya Bandar Lampung di Pekon Sinar Jawa, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, menuai sorotan. Kepala Pekon Sinar Jawa, Hadi Hariyanto, mengeluhkan persoalan komunikasi dan etika mahasiswa saat berinteraksi dengan masyarakat setempat. Ia berharap pihak kampus memberikan pembinaan agar mahasiswa lebih memahami tata krama ketika menjalankan kegiatan di tengah masyarakat.

Persoalan tersebut bermula ketika rombongan mahasiswa KKN datang ke Balai Pekon Sinar Jawa untuk menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan KKN.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Dalam persiapan tersebut, mahasiswa kemudian mencari tempat tinggal untuk digunakan selama menjalankan program di pekon. Salah satu rumah yang menjadi pilihan adalah rumah milik Feni.

Menurut informasi yang disampaikan kepada Hadi, Feni menetapkan biaya sewa sebesar Rp400.000 per orang. Dengan jumlah mahasiswa sebanyak 11 orang, nilai sewa yang diperhitungkan mencapai Rp4,4 juta.

Mahasiswa kemudian disebut keberatan dengan nominal tersebut dan meminta bantuan Hadi untuk berkomunikasi dengan pemilik rumah mengenai kemungkinan penurunan harga.

Hadi mengaku telah menghubungi Feni. Namun, pemilik rumah tetap mempertahankan harga yang telah ditetapkan.

Persoalan kemudian muncul ketika Hadi menyampaikan hasil komunikasi tersebut kepada salah seorang koordinator mahasiswa KKN bernama Wayan.

Menurut Hadi, saat itu Wayan menyampaikan bahwa pihak mahasiswa sebenarnya tidak mempermasalahkan nominal sewa tersebut.

Pernyataan tersebut kemudian dipahami Hadi sebagai tanda bahwa mahasiswa akan menggunakan rumah tersebut sebagai tempat tinggal selama KKN.

Rumah Sudah Dibersihkan, Mahasiswa Justru Pilih Tempat Lain

Setelah mendapat informasi bahwa rumahnya akan ditempati mahasiswa KKN, Feni kemudian melakukan sejumlah persiapan.

Baca juga:  ‎Kemenag Kecolongan: Penyelewengan Anggaran MAN 1 Kota Agung Tembus Miliaran Rupiah‎

Ia membersihkan dan membenahi rumah tersebut, termasuk mengeluarkan biaya untuk meminta bantuan orang lain melakukan pembersihan.

Namun, keputusan mahasiswa berubah pada keesokan harinya.

ADVERTISEMENT

Mahasiswa KKN disebut memilih rumah lain untuk dijadikan tempat tinggal. Menurut informasi yang diterima Hadi, keputusan tersebut berkaitan dengan persoalan biaya sewa.

Perubahan keputusan itu membuat Feni kecewa. Sebab, ia merasa telah mempersiapkan rumah setelah sebelumnya terdapat komunikasi yang dipahaminya sebagai kesepakatan untuk menyewa.

Kekecewaan tersebut semakin terasa karena pembatalan penggunaan rumah disebut tidak disampaikan secara langsung sejak awal. Feni baru mengetahui mahasiswa memilih tempat lain setelah persoalan tersebut ditanyakan.

ADVERTISEMENT

Bagi Hadi, persoalan tersebut sebenarnya dapat diselesaikan dengan komunikasi yang lebih terbuka sejak awal.

Persoalan Tempat Tinggal Laki-Laki dan Perempuan

Polemik kemudian berkembang ketika Hadi mengetahui adanya rencana mahasiswa KKN laki-laki dan perempuan untuk tinggal bersama dalam satu rumah.

Hadi menyatakan keberatan dengan rencana tersebut.

Menurutnya, keputusan itu perlu mempertimbangkan norma, kebiasaan, dan tata krama masyarakat Pekon Sinar Jawa yang selama ini berlaku.

Ia menilai mahasiswa yang datang untuk melaksanakan KKN harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial tempat mereka menjalankan pengabdian.

Bagi Hadi, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai tempat tinggal. Lebih jauh, mahasiswa perlu memahami bahwa kegiatan KKN membawa mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat yang memiliki nilai dan kebiasaan yang harus dihormati.

Nama Kepala Pekon Dikaitkan dengan Uang Rokok

Persoalan lain muncul ketika pembicaraan mengenai uang rokok ikut dikaitkan dengan Hadi dan Feni.

Baca juga:  Kepala Pekon di Air Naningan Desak Transparansi Seleksi Siswa SMAN 1 Air Naningan

Hadi membantah pernah meminta uang rokok kepada Feni. Ia mengaku keberatan karena namanya dikaitkan dengan permintaan tersebut.

Untuk memastikan persoalan itu, Hadi kemudian menghubungi Feni.

Dalam keterangannya melalui pesan suara yang disampaikan kepada Hadi, Feni juga membantah pernah mengatakan bahwa Hadi meminta uang rokok.

Feni menjelaskan bahwa dirinya memang memiliki niat memberikan sejumlah uang kepada Hadi sebagai bentuk terima kasih apabila mahasiswa KKN jadi menyewa rumahnya. Namun, menurut Feni, niat tersebut merupakan inisiatif pribadinya dan bukan karena diminta oleh Hadi.

“Saya juga mau ngasih uang rokok ke kepala pekon itu tanda terima kasih. Bukan ngomong kalau kepala pekon minta uang rokok,” ujar Feni dalam voice note yang disampaikan kepada Hadi, seraya menjelaskan konteks percakapannya dengan mahasiswa.

Hadi menilai persoalan tersebut semestinya tidak berkembang menjadi isu di tengah masyarakat apabila sejak awal semua pihak membangun komunikasi secara terbuka.

Ia juga menyayangkan tidak adanya komunikasi langsung dari dosen pendamping mahasiswa KKN terkait persoalan tersebut.

Minta Kampus Berikan Pembinaan

Hadi berharap IIB Darmajaya memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut, terutama menyangkut etika komunikasi dan kemampuan mahasiswa beradaptasi dengan masyarakat.

Menurutnya, KKN bukan hanya kegiatan akademik untuk memenuhi kewajiban perkuliahan. Mahasiswa juga membawa nama institusi pendidikan ketika berada di tengah masyarakat.

Karena itu, mahasiswa dituntut mampu menjaga sikap, membangun komunikasi yang baik, serta menghormati norma dan kebiasaan masyarakat setempat.

Baca juga:  Semangat Gotong Royong, Warga Kaliwungu Rehab Musala Nurul Jadid Secara Swadaya

“Saya meminta anak-anak KKN Universitas Darmajaya untuk lebih beretika,” ujar Hadi kepada Pewarta di Pekon Sinar Jawa, Sabtu (25/7/2026).

Ia berharap kampus dapat memberikan pembinaan agar mahasiswa memahami pentingnya tata krama ketika menjalankan kegiatan KKN, terutama saat berkomunikasi dengan perangkat pekon maupun masyarakat.

Hadi juga menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam penentuan ataupun pembahasan harga sewa rumah yang menjadi pilihan mahasiswa.

Menurutnya, persoalan harga maupun tempat tinggal merupakan pembicaraan antara mahasiswa dan pemilik rumah.

Koordinator KKN Belum Berikan Penjelasan

Sementara itu, Koordinator mahasiswa KKN IIB Darmajaya, Wayan, saat dikonfirmasi mengenai polemik tersebut belum memberikan penjelasan substantif.

Wayan membenarkan bahwa dirinya merupakan orang yang dihubungi media. Namun, ia menyampaikan belum dapat memberikan tanggapan karena sedang menghadiri acara keluarga.

“Siang kak, iya benar kak dengan saya sendiri, mohon maaf kak sebelumnya saya lagi ada acara keluarga kak, untuk sementara saya tidak bisa menjawab, maaf ya kak,” tulis Wayan melalui pesan WhatsApp.

Dengan demikian, hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan lebih lanjut dari pihak mahasiswa terkait perubahan tempat tinggal, komunikasi mengenai biaya sewa, maupun persoalan etika komunikasi yang dipersoalkan Kepala Pekon Sinar Jawa.

Polemik tersebut diharapkan dapat diselesaikan melalui komunikasi antara mahasiswa, pihak pekon, masyarakat, dan kampus.

Sebab, inti dari kegiatan KKN bukan hanya bagaimana mahasiswa menyelesaikan program kerja, tetapi juga bagaimana mereka mampu beradaptasi, menghormati masyarakat, dan menjaga nama baik institusi pendidikan selama berada di tengah lingkungan warga. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™