Banner Top Up Produk Digital
AdvetorialBeritaEkonomiLampung SelatanPemerintahan

Lampung Selatan Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Pelestarian Ikat Tukkus, Warisan Budaya Radin Inten II

25
×

Lampung Selatan Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Pelestarian Ikat Tukkus, Warisan Budaya Radin Inten II

Sebarkan artikel ini
Lampung Selatan Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Pelestarian Ikat Tukkus, Warisan Budaya Radin Inten II

TINTA INFORMASI, Lampung – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terus memperkuat pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan pembuatan Ikat Tukkus tradisional yang digelar di Pantai Senaya, Kecamatan Kalianda, Kamis (18/6/2026).

Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan fasilitasi prosesi kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi ekonomi kreatif yang bertujuan melestarikan warisan budaya sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Kemasyarakatan, Yanny Munawarty. Turut hadir jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Paluma Nusantara, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bulok dan Desa Way Kalam, serta sejumlah sanggar budaya di Lampung Selatan.

Dalam sambutannya, Yanny menegaskan bahwa Ikat Tukkus memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar penutup kepala atau pelengkap busana adat. Menurutnya, Tukkus merupakan simbol kehormatan, kewibawaan, dan identitas budaya masyarakat Lampung yang memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan Pahlawan Nasional Radin Inten II.

Baca juga:  Sabah Balau Tanjung Bintang Berbeda Dengan Kotabaru Jati Agung.

“Ikat Tukkus merupakan bagian dari tradisi yang telah hidup jauh sebelum masa kemerdekaan. Penutup kepala ini menjadi simbol kehormatan, kewibawaan, sekaligus identitas masyarakat Lampung. Ketika kita melestarikannya, berarti kita turut menjaga marwah dan karakter budaya Lampung agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujar Yanny.

Ia menambahkan, perkembangan industri kreatif membuka ruang inovasi dalam pembuatan Tukkus, salah satunya melalui penggunaan kain tenun tapis modifikasi yang mampu meningkatkan nilai estetika tanpa menghilangkan ciri khas budaya Lampung.

“Inovasi ini menjadi peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif untuk menghadirkan produk yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan daya saing di pasar yang lebih luas,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan, I Nyoman Setiawan, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari implementasi Program Desa HELAU (Hijau, Elok, Lestari, Aman, Unggul) yang diinisiasi Bupati Lampung Selatan.

Menurut Nyoman, program tersebut menitikberatkan pada pelestarian adat, seni, dan budaya desa melalui pilar “Lestari”, serta penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk kreatif berbasis potensi lokal dalam pilar “Unggul”.

Baca juga:  Tari Tupping Massal Mewarnai Pembukaan Secara Resmi Kalianda Kite Festival lll 2024

Karena itu, ia mendorong para pelaku ekonomi kreatif, pengelola sanggar, dan Pokdarwis untuk tidak berhenti pada tahap pelatihan. Mereka diminta segera mengembangkan produksi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas pemasaran melalui platform digital dan jaringan pariwisata.

“Pelestarian budaya harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Produk-produk kreatif berbasis budaya lokal harus terus dikembangkan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, maestro kerajinan Lampung Selatan, Raja Muda, hadir sebagai narasumber utama yang memberikan pendampingan teknis sekaligus mentransfer keterampilan pembuatan Ikat Tukkus kepada para peserta.

ADVERTISEMENT

Melalui program ini, Pemkab Lampung Selatan berharap lahir berbagai produk suvenir khas daerah yang tidak hanya diminati wisatawan domestik, tetapi juga mampu menembus pasar internasional. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi kreatif yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing, sehingga warisan budaya Lampung tetap lestari sekaligus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™