Scroll untuk baca artikel
Banner Top Up Produk Digital
BeritaInternasionalNewsPolitik

Kolombia Berbalik Arah soal Sahara Barat, Maroko Raih Kemenangan Diplomatik Besar

45
×

Kolombia Berbalik Arah soal Sahara Barat, Maroko Raih Kemenangan Diplomatik Besar

Sebarkan artikel ini
Kolombia Berbalik Arah soal Sahara Barat, Maroko Raih Kemenangan Diplomatik Besar

TINTAINFORMASI.COM, CALI, KOLOMBIA – Peta diplomasi internasional kembali bergeser. Kolombia secara resmi mengubah sikap politiknya terhadap sengketa Sahara Barat dengan menarik pengakuannya terhadap Republik Arab Sahrawi Demokratik (SADR) dan menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Maroko atas wilayah yang oleh Rabat disebut sebagai Provinsi-Provinsi Selatan.

Keputusan tersebut menjadi pukulan diplomatik baru bagi kubu pendukung SADR sekaligus kemenangan penting bagi Maroko dalam upayanya memperluas dukungan internasional terhadap klaimnya atas Sahara Barat.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Perubahan sikap itu diumumkan dalam pertemuan di Cali, Jumat (7/8/2026), yang mempertemukan Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Afrika dan Warga Maroko di Luar Negeri Nasser Bourita dengan Wakil Presiden Kolombia José Manuel Restrepo. Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Luar Negeri Kolombia Omar Bula Escobar.

Langkah Bogotá tersebut bukan sekadar perubahan redaksional dalam diplomasi. Kebijakan itu menandai pembalikan posisi yang sebelumnya diambil pemerintahan Kolombia di bawah Gustavo Petro, yang pada 2022 memulihkan hubungan diplomatik dengan SADR. Sejumlah laporan internasional menyebut keputusan pemerintahan baru Kolombia ini sebagai perubahan besar dalam kebijakan luar negeri negara Amerika Latin tersebut.

Menteri Luar Negeri Kolombia Omar Bula Escobar menegaskan perubahan sikap negaranya dengan menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Maroko atas Sahara.

Sementara itu, Wakil Presiden José Manuel Restrepo menyebut perubahan tersebut sebagai sebuah “awal baru” dalam hubungan Bogotá dan Rabat.

Baca juga:  Sinergi Kampus UBL dan Pemda Pesawaran Jaga Ekosistem Pesisir Lewat Aksi Tanam Mangrove

Menurut Restrepo, Maroko dipandang sebagai mitra strategis penting Kolombia di Afrika. Karena itu, perubahan sikap terhadap isu Sahara diharapkan tidak berhenti pada level politik, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang lebih luas di bidang ekonomi dan strategis.

Bagi Rabat, momentum tersebut jelas bukan kabar biasa.

Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita menyebut keputusan Kolombia sebagai langkah yang bersejarah. Perubahan posisi Bogotá dinilai membuka ruang baru bagi peningkatan hubungan bilateral sekaligus memperkuat posisi Maroko dalam perebutan dukungan internasional atas isu Sahara.

Kolombia sebelumnya memiliki hubungan dengan SADR. Karena itu, pencabutan pengakuan tersebut menjadi bagian penting dari perubahan arah politik luar negeri Bogotá.

Sejumlah laporan menyebut langkah terbaru Kolombia sebagai kemenangan diplomatik bagi Raja Mohammed VI dan pemerintah Maroko. Perubahan itu juga memperlihatkan bahwa isu Sahara semakin menjadi salah satu arena penting dalam perebutan pengaruh diplomatik antara Rabat dan pihak-pihak yang mendukung kemerdekaan Sahara Barat.

Bourita optimistis perubahan sikap politik tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan hubungan ekonomi kedua negara.

ADVERTISEMENT

Posisi geografis kedua negara juga memberikan nilai strategis. Maroko memiliki peran penting sebagai salah satu pintu menuju pasar Afrika, sementara Kolombia berada di kawasan strategis Amerika Latin.

Jika hubungan politik semakin solid, kerja sama perdagangan, investasi, konektivitas, dan sektor ekonomi lainnya berpotensi menjadi agenda berikutnya.

Baca juga:  Finlandia Dukung Otonomi di Bawah Kedaulatan Maroko Sebagai Solusi Sahara Maroko

Bourita juga menegaskan kehadirannya di Kolombia atas instruksi Raja Mohammed VI sebagai bentuk komitmen Rabat untuk memanfaatkan momentum tersebut guna membawa hubungan Maroko-Kolombia ke tingkat yang lebih tinggi.

IMSB Sambut Perubahan Sikap Bogotá

ADVERTISEMENT

Perubahan kebijakan Kolombia tersebut mendapat sambutan dari Indonesia-Moroccan Sahara Brotherhood (IMSB).

Presiden IMSB Wilson Lalengke menyampaikan apresiasi terhadap keputusan Bogotá yang menurutnya memperkuat posisi Maroko dalam dinamika diplomasi internasional.

“Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas langkah berani Republik Kolombia yang secara tegas mengakui kedaulatan Kerajaan Maroko atas wilayah Sahara,” ujar Wilson Lalengke dari Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Wilson menilai keputusan tersebut sejalan dengan pendekatan penyelesaian sengketa Sahara yang menekankan integritas teritorial dan proses politik.

Ia berharap perubahan sikap Kolombia dapat mendorong negara-negara lain untuk mengambil posisi serupa.

Menurutnya, dukungan terhadap kedaulatan Maroko dan solusi politik yang ditawarkan Rabat merupakan jalan yang realistis untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

Namun, persoalan Sahara Barat sendiri tetap merupakan sengketa internasional yang kompleks. Karena itu, perubahan sikap satu negara tidak otomatis mengakhiri sengketa maupun menentukan status final wilayah tersebut.

Justru sebaliknya, keputusan Kolombia berpotensi membuat pertarungan diplomatik mengenai Sahara semakin intens.

Bagi Maroko, setiap negara yang bergeser mendukung klaim Rabat merupakan tambahan amunisi diplomatik.

Bagi pihak pendukung kemerdekaan Sahara Barat, perubahan tersebut merupakan kehilangan dukungan politik yang harus dihadapi.

Dengan demikian, keputusan Bogotá bukan sekadar pergantian posisi sebuah negara Amerika Latin.

Ia menjadi bagian dari pertarungan diplomatik yang lebih besar mengenai masa depan Sahara Barat.

Efek Domino Diplomatik?

Perubahan sikap Kolombia juga menarik karena terjadi di tengah momentum internasional yang semakin ramai memperdebatkan pendekatan terhadap sengketa Sahara.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara menyatakan dukungan terhadap integritas teritorial Maroko maupun rencana otonomi yang ditawarkan Rabat. Pemerintah Maroko sendiri terus mendorong agar rencana otonomi tersebut menjadi basis penyelesaian politik sengketa.

Jika perubahan sikap Bogotá diikuti negara lain, posisi diplomatik Rabat akan semakin menguat.

Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar siapa yang mendukung Maroko dan siapa yang mendukung SADR.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah perubahan konfigurasi diplomatik tersebut mampu mendorong penyelesaian politik yang benar-benar dapat diterima para pihak.

Di titik itulah keputusan Kolombia menjadi penting.

Satu keputusan diplomatik memang tidak serta-merta mengubah peta wilayah.

Tetapi dalam politik internasional, satu negara yang berbalik arah dapat menjadi sinyal. Dan ketika sinyal itu kemudian diikuti negara-negara lain, ia bisa berubah menjadi arus.

Bagi Maroko, Bogotá baru saja memberikan salah satu sinyal paling keras dari kawasan Amerika Latin.

Dan bagi diplomasi Sahara, babak berikutnya tampaknya baru saja dimulai. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™