TANGGAMUS, TINTA INFORMASI — Pemerintah Kabupaten Tanggamus terus membuka peluang untuk memperkuat sektor pertanian melalui sinergi dengan pemerintah pusat. Berbagai program mulai dari pengembangan bawang putih, irigasi dan pompanisasi, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), hortikultura, hingga perkebunan dan peternakan dibahas dalam audiensi bersama Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI.
Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto menerima audiensi Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI Bidang Teknologi Informasi, Hermansyah, S.T., M.T., bersama Ardiansyah, S.ST., selaku Penanggung Jawab Luas Tambah Tanam (LTT) Kabupaten Tanggamus.
Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Kantor Wakil Bupati Tanggamus, Selasa (22/9/2026).
Audiensi tersebut menjadi momentum bagi Pemkab Tanggamus untuk memetakan potensi sekaligus menyampaikan kebutuhan sektor pertanian kepada pemerintah pusat. Selain itu, pertemuan tersebut membahas peluang agar berbagai program Kementerian Pertanian dapat lebih cepat direalisasikan di daerah.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Maradona, Kepala Bidang Perencanaan Bapperida Suparmono, Kepala Dinas KPTPH Alkat Alamsyah, Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Tanggamus Drh. Ari Priyanto, jajaran PUPR, penyuluh pertanian, serta para koordinator penyuluh kecamatan.
Bawang Putih Jadi Salah Satu Komoditas yang Dibahas
Hermansyah mengatakan, kunjungannya merupakan bagian dari upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Menurutnya, koordinasi tersebut penting untuk mengetahui secara langsung potensi sekaligus kebutuhan pertanian di Kabupaten Tanggamus.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah bawang putih.
Hermansyah menjelaskan, pengembangan bawang putih membutuhkan perencanaan kawasan yang matang. Selain kesesuaian lahan, pemerintah juga perlu memperhitungkan dukungan irigasi dan pola tanam agar program dapat berjalan secara optimal.
“Jadi tugas saya di pemerintah pusat ini lebih cepat memberikan informasi bagaimana program itu bisa dilaksanakan di Tanggamus. Itu yang menjadi satu poinnya,” kata Hermansyah.
Ia juga mendorong pemanfaatan lahan melalui pola tumpang sari. Salah satu opsi yang dibahas adalah mengintegrasikan tanaman bawang putih dengan kawasan kopi, selama memenuhi persyaratan teknis dan agroklimat.
Menurut Hermansyah, kebutuhan bawang putih nasional masih cukup besar. Karena itu, peningkatan produksi dalam negeri menjadi salah satu perhatian pemerintah.
“Kalau kita punya target, misalkan dari 1.000 hektare itu 30 persennya bawang putih, mudah-mudahan bisa tercapai. Ini tentu harus dihitung dan direncanakan dengan baik,” ujarnya.
Selain bawang putih, pemerintah pusat juga membuka peluang pengembangan program ayam petelur. Penguatan sistem irigasi dan pompanisasi turut menjadi perhatian untuk meningkatkan indeks pertanaman di Tanggamus.
Tanggamus Usulkan Tambahan Alsintan
Sementara itu, Kepala Dinas KPTPH Tanggamus Alkat Alamsyah memaparkan sejumlah program pertanian yang telah berjalan maupun masih dalam tahap pengusulan.
Untuk sektor irigasi, Tanggamus telah memperoleh sejumlah alokasi pembangunan sarana pendukung pertanian, termasuk pompanisasi dan jaringan irigasi. Namun, pemerintah daerah masih mengusulkan tambahan titik untuk memperluas cakupan program.
Kebutuhan terhadap alat dan mesin pertanian juga menjadi salah satu perhatian Pemkab Tanggamus.
Sejumlah bantuan alsintan telah diterima daerah, di antaranya traktor roda empat, traktor roda dua, serta berbagai peralatan pertanian lainnya.
Namun, Pemkab Tanggamus masih mengusulkan tambahan 50 unit traktor roda dua, 30 unit traktor roda empat, dan 10 unit combine harvester.
“Kami sangat miris, Pak, dengan perbandingan posisi luas wilayah. Tanggamus lebih besar, tetapi bantuan combine harvester di Lampung Barat sudah cukup banyak. Harapan kami ke depan Tanggamus bisa mendapatkan tambahan,” kata Alkat.
Selain alsintan, pengembangan kawasan hortikultura juga terus dilakukan. Sejumlah komoditas yang dikembangkan antara lain cabai dan durian, termasuk program pemanfaatan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Pengembangan Bawang Putih Terkendala Status Lahan
Khusus bawang putih, Alkat mengatakan Tanggamus sebelumnya mendapatkan target pengembangan sekitar 130 hektare. Namun, pelaksanaan program masih menghadapi kendala status lahan, terutama di Kecamatan Ulubelu.
Sebagian wilayah Ulubelu berada di kawasan hutan lindung sehingga pemanfaatannya membutuhkan perhatian khusus terkait status dan ketentuan lahan.
“Untuk program bawang putih di Kecamatan Ulubelu, kesanggupan Kabupaten Tanggamus saat ini hanya 5 hektare karena terkendala status tanah yang merupakan hutan lindung. Mudah-mudahan tahun depan bisa meningkat,” jelas Alkat.
Kondisi tersebut membuat Pemkab Tanggamus perlu mencari alternatif kawasan yang memenuhi persyaratan agar pengembangan bawang putih dapat diperluas.
Kopi, Kakao dan Peternakan Tanggamus Punya Potensi
Dari sektor perkebunan dan peternakan, Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Tanggamus Drh. Ari Priyanto menyebut daerah tersebut memiliki potensi yang cukup besar.
Komoditas kopi dan kakao menjadi salah satu sektor perkebunan yang dapat dikembangkan. Sementara itu, sektor peternakan memiliki potensi pada komoditas kambing, domba, dan sapi.
“Kami berharap sektor perkebunan maupun peternakan di Tanggamus ini bisa dilirik. Untuk sektor pakan peternakan, terutama kambing dan domba, potensinya sangat berlimpah. Apalagi nanti bisa diintegrasikan dengan kopi atau kebun-kebun yang ada di Kabupaten Tanggamus,” kata Ari.
Menurutnya, dukungan pemerintah tidak hanya dibutuhkan pada tahap produksi. Pengembangan industri pengolahan hasil juga penting agar komoditas perkebunan dan peternakan tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Dengan pengolahan pascapanen, produk dari sektor pertanian dan peternakan diharapkan memiliki nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
Wabup Tanggamus Minta Program Pusat Segera Ditindaklanjuti
Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, penyuluh, dan seluruh pemangku kepentingan.
Menurut Agus, setiap peluang program yang ditawarkan pemerintah pusat harus segera ditindaklanjuti dengan proposal dan data pendukung yang lengkap.
“Jangan nunggu, proposalnya kalau bisa cepat. Kalau sudah jadi, langsung saya aplikasikan, siap,” tegas Agus.
Ia juga meminta para penyuluh pertanian aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Selain itu, penyuluh diharapkan bersama-sama turun ke lapangan untuk memastikan program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Bapak-bapak penyuluh kerja untuk masyarakat, kami juga untuk masyarakat. Jadi mohon maaf, mohon maklum kalau sewaktu-waktu kami telepon, kami minta untuk sama-sama turun ke lapangan,” ujarnya.
Agus mengatakan Pemkab Tanggamus akan berupaya menangkap setiap peluang program pemerintah pusat yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Hal tersebut dinilai penting di tengah keterbatasan fiskal daerah akibat kebijakan efisiensi anggaran.
“Pesan Pak Bupati kepada kita semua, setiap ada program itu tidak boleh lewat begitu saja. Harus kita tangkap,” katanya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar berbagai potensi pertanian Tanggamus dapat dikembangkan secara lebih terarah.
Dengan dukungan program, infrastruktur pertanian, alsintan, penyuluhan, serta pengembangan komoditas, Pemkab Tanggamus berharap produktivitas pertanian dapat meningkat sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani.
“Kita betul-betul memperkuat kolaborasi. Mudah-mudahan ini menjadi kesempatan yang baik untuk kita bersama-sama merealisasikan dan mewujudkan program yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Tanggamus,” pungkasnya. (**)
