Banner Top Up Produk Digital
BeritaInvestigasiPendidikan

Video Dies Natalis ITERA Digunakan Tanpa Penyelesaian Pembayaran, Invoice Tak Kunjung Dibayar

30
×

Video Dies Natalis ITERA Digunakan Tanpa Penyelesaian Pembayaran, Invoice Tak Kunjung Dibayar

Sebarkan artikel ini
Video Dies Natalis ITERA Digunakan Tanpa Penyelesaian Pembayaran, Invoice Tak Kunjung Dibayar, Kampus Buntu?

TINTA INFORMASI, LAMPUNG — Persoalan pembayaran jasa produksi dan editing video pada rangkaian Dies Natalis ke-10 Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kembali menjadi sorotan.

Seorang kreator yang mengerjakan produksi dan pengembangan materi visual untuk kegiatan Dies Natalis ke-10 ITERA mengaku hingga kini belum mendapatkan kejelasan mengenai pembayaran atas pekerjaan yang telah dibuat dan digunakan dalam kegiatan resmi kampus tersebut.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Ironisnya, berdasarkan dokumentasi yang diperoleh, materi visual hasil pekerjaan kreator tersebut tampak digunakan dalam acara resmi ITERA dengan watermark “Neverhide” yang masih terlihat pada layar.

Temuan tersebut terlihat dalam sejumlah tangkapan layar dokumentasi kegiatan yang menunjukkan materi visual dengan watermark Neverhide ditampilkan pada layar panggung.

Salah satunya memperlihatkan slide bertuliskan “KKN Desa Binaan ITERA” dan “Bakti Sosial” dalam rangkaian Dies Natalis. Pada dokumentasi lainnya, materi visual yang ditampilkan memuat agenda Creative Market, Fashion Show, E-Sports, Itera Run & Diskorobik.

Watermark Neverhide terlihat berada pada materi visual yang ditampilkan tersebut.

Gambar: Screenshot video official Instagram ITERA

Bukan Sekadar Klaim, Ada Jejak Pekerjaan

Persoalan ini diperkuat dengan adanya dokumen invoice yang diajukan kepada ITERA.

Dalam invoice bernomor INV-NVH-ITERA-DN10-2026-001, Neverhide menagihkan pekerjaan kepada Institut Teknologi Sumatera untuk proyek “Produksi dan pengembangan video slideshow/material visual Dies Natalis ke-10 ITERA 2014–2024.”

Invoice tersebut mencantumkan sejumlah pekerjaan, mulai dari bumper logo, design editing, slide editing, redesign logo dan teks, ide atau konsep kreatif, hingga pekerjaan lain dan penyesuaian materi.

Total nilai jasa yang tercantum dalam invoice mencapai Rp2.500.000.

Baca juga:  Kejanggalan Realisasi DD di Datar Lebuay, Para Jurnalis Akan Investigasi Mendalam

Dokumen itu juga mencatat bahwa pekerjaan mencakup ide atau konsep, desain, penyusunan dan pengeditan slide, redesign elemen grafis dan teks, bumper, serta penyesuaian materi. Arsip pekerjaan dan dokumentasi pendukung disebut tersedia untuk keperluan verifikasi.

Dengan kata lain, terdapat dokumen yang secara spesifik mencatat jenis pekerjaan, pihak yang ditagih, serta nilai jasa yang diajukan.

Invoice Sudah Dikirim, tetapi Tak Ada Jawaban

Yang menjadi persoalan berikutnya adalah upaya penyelesaian pembayaran tersebut.

Menurut keterangan kreator kepada wartawan, invoice telah dikirimkan melalui email resmi ITERA sebagai upaya meminta penyelesaian pembayaran atas pekerjaan yang telah dikerjakan.

Namun, hingga berita ini diturunkan, tidak ada jawaban atau balasan dari pihak ITERA terhadap email tersebut.

Kondisi itu membuat persoalan semakin menjadi tanda tanya.

Sebab, pihak kreator tidak hanya mengajukan tagihan secara informal. Terdapat invoice yang secara jelas ditujukan kepada Institut Teknologi Sumatera dan mencantumkan rincian pekerjaan serta nominal yang ditagihkan.

Pertanyaannya kemudian sederhana: mengapa permintaan penyelesaian pembayaran tersebut tidak mendapatkan respons?

Watermark Masih Terlihat Saat Materi Ditampilkan

Hal yang membuat kasus ini semakin menarik perhatian adalah keberadaan watermark pada materi yang ditayangkan.

Dalam tangkapan layar yang diperoleh, watermark Neverhide terlihat pada materi visual yang tampil di layar kegiatan ITERA.

Bahkan, bukti lainnya memperlihatkan file video yang digunakan dalam produksi tersebut, termasuk file “BUMPER DIES NATALIS 10 ITERA.mpg”.

Pada informasi file yang ditampilkan dalam dokumentasi, video tersebut tercatat dibuat dan dimodifikasi pada 28 Mei 2024, bertepatan dengan momentum peluncuran agenda Dies Natalis ke-10 ITERA yang berlangsung pada 28 Mei 2024.

Baca juga:  PPWI OKI Ucapkan Selamat Hari Bhakti Adhyaksa ke-66, Apresiasi Komitmen Kejaksaan Tegakkan Hukum Berkeadilan

Sementara itu, akun Instagram resmi @iteraofficial juga mengunggah dokumentasi peluncuran agenda Dies Natalis ke-10 pada 29 Mei 2024. Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa ITERA resmi meluncurkan agenda Dies Natalis ke-10 melalui kegiatan yang digelar di Ampiteater Embung C ITERA pada Selasa, 28 Mei 2024.

Rangkaian bukti tersebut menunjukkan adanya keterkaitan waktu antara pembuatan materi, pelaksanaan kegiatan, dan publikasi dokumentasi kegiatan.

Mengapa Karya yang Masih Berwatermark Ditayangkan?

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Jika watermark masih melekat pada materi video, publik tentu dapat mempertanyakan apakah video tersebut merupakan versi final atau materi preview.

Jika merupakan materi final, mengapa watermark kreator masih tampil?

Sebaliknya, jika merupakan materi preview yang belum dinyatakan sebagai versi final, mengapa materi tersebut digunakan untuk kebutuhan acara resmi institusi?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena pihak kreator mengaku masih memiliki persoalan pembayaran atas pekerjaan tersebut.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata nominal Rp2,5 juta.

Ini menyangkut bagaimana sebuah institusi memperlakukan hasil kerja kreator yang telah digunakan untuk kepentingan kegiatan resminya.

Rp2,5 Juta Mungkin Kecil bagi Institusi, tetapi Tetap Nilai Sebuah Pekerjaan

Nilai tagihan yang tercantum dalam invoice memang hanya Rp2,5 juta.

Namun bagi seorang pekerja kreatif, nominal tersebut merupakan kompensasi atas proses kerja yang mencakup konsep, desain, editing, penyusunan materi, hingga penyesuaian visual.

Baca juga:  Yang Mulia Raja Mohammed VI Ketua Dewan Menteri

Terlebih, dokumen invoice menyebutkan secara rinci pekerjaan yang dilakukan.

Karena itu, persoalan ini tidak semestinya dilihat semata-mata sebagai persoalan nominal.

Yang dipertaruhkan adalah penghargaan terhadap kerja profesional.

Apalagi, pihak yang menjadi tujuan tagihan adalah sebuah perguruan tinggi negeri yang membawa nama besar pendidikan dan teknologi.

ITERA Diminta Beri Penjelasan

Hingga berita ini diturunkan, pihak kreator mengaku belum mendapatkan balasan atas invoice yang telah dikirim melalui email resmi ITERA.

Karena itu, publik layak mendapatkan penjelasan dari pihak ITERA mengenai persoalan tersebut.

Apakah benar pekerjaan tersebut dipesan atau digunakan untuk rangkaian Dies Natalis ke-10?

Apakah materi video tersebut telah diterima oleh pihak ITERA?

Mengapa materi dengan watermark kreator tetap ditampilkan dalam kegiatan resmi?

Bagaimana status administrasi pekerjaan tersebut?

Dan yang paling penting, mengapa invoice yang telah dikirim melalui email resmi ITERA tidak mendapatkan respons?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya dapat dijawab secara terbuka agar persoalan ini tidak menjadi preseden buruk dalam hubungan antara institusi pendidikan dengan pekerja kreatif.

Sebab, ketika sebuah karya telah dibuat dan kemudian digunakan untuk kepentingan kegiatan resmi, setidaknya pembuat karya berhak mendapatkan kepastian mengenai status pekerjaan dan pembayaran jasanya.

Kini, publik menunggu penjelasan dari pihak ITERA.

Apakah ini sekadar persoalan administrasi yang belum selesai, miskomunikasi internal, atau terdapat alasan lain yang membuat tagihan tersebut belum mendapatkan penyelesaian?.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan dari pihak ITERA terkait persoalan tersebut. (NdH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™