Banner Top Up Produk Digital
BeritaBudayaDaerah

Siti Mukaromah: Kearifan Lokal Banyumas Perkuat Fondasi Kebangsaan

56
×

Siti Mukaromah: Kearifan Lokal Banyumas Perkuat Fondasi Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Siti Mukaromah: Kearifan Lokal Banyumas Perkuat Fondasi Kebangsaan

TINTA INFORMASI, BANYUMAS — Kekayaan budaya dan kearifan lokal dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat karakter serta fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang tumbuh dari tradisi masyarakat di berbagai daerah dapat menjadi kekuatan kultural untuk menghidupkan semangat Pancasila dan konstitusi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Anggota MPR RI Siti Mukaromah saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (16/9/2026).

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Dalam kesempatan tersebut, Siti menyoroti falsafah khas masyarakat Banyumas yang bertumpu pada tiga simbol utama, yakni Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan Blakasuta. Menurutnya, ketiga nilai tersebut memiliki pesan moral yang relevan dengan semangat Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Ia mengatakan, kearifan lokal tidak seharusnya dipandang sebatas warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai dalam membentuk karakter masyarakat dan memperkuat integritas nasional.

“Falsafah Banyumas yang dirumuskan melalui keteguhan Gunung Slamet, keluwesan dan kemanfaatan Sungai Serayu, serta kejujuran beretika lewat Blakasuta adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945,” ujar Siti yang akrab disapa Erma.

Baca juga:  TTKKBI Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Terus Lestarikan Seni Debus sebagai Warisan Budaya Nusantara

Siti menjelaskan, falsafah Gununge mulang kukuh yang direpresentasikan melalui Gunung Slamet mengandung pesan tentang keteguhan dalam memegang prinsip. Nilai tersebut, menurutnya, dapat menjadi landasan pembentukan karakter warga negara maupun pemimpin yang memiliki integritas.

Keteguhan tersebut bukan berarti bersikap keras atau merasa lebih tinggi dari orang lain. Sebaliknya, karakter yang kuat perlu berjalan bersama kerendahan hati dan kesadaran untuk mengutamakan kepentingan masyarakat.

Nilai itu dinilai sejalan dengan semangat Pancasila yang menempatkan moral, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa.

Sementara itu, filosofi Sungai Serayu melalui ungkapan Serayune mulang mili menggambarkan aliran kehidupan yang terus bergerak. Siti menilai filosofi tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat untuk mampu beradaptasi menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah dan identitas.

Menurutnya, semangat tersebut juga dapat dikaitkan dengan upaya menjaga persatuan nasional serta mendorong pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pembangunan harus mampu menghadirkan kemanfaatan bagi rakyat dan tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.

Baca juga:  BPSDMD Lampung Bentuk Pemimpin Pengawas Tangguh, PPWI Lampung Turut Dukung

Nilai ketiga yang disoroti adalah Blakasuta, sebuah tradisi yang menekankan keberanian untuk berkata jujur sekaligus menyampaikan kebenaran dengan tetap menjaga tata krama.

ADVERTISEMENT

Prinsip tersebut dinilai semakin relevan di tengah kehidupan demokrasi modern. Kebebasan menyampaikan pendapat, menurut Siti, perlu diiringi dengan tanggung jawab, etika, dan penghormatan terhadap orang lain.

Budaya kritik yang jujur tetapi tetap santun dapat menjadi bagian dari upaya membangun demokrasi yang sehat dan beradab. Dengan demikian, perbedaan pandangan tidak harus berujung pada perpecahan, melainkan dapat menjadi ruang untuk memperbaiki kehidupan bersama.

Siti menegaskan, penguatan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 membutuhkan dukungan dari masyarakat hingga tingkat akar rumput. Salah satu jalannya adalah dengan menggali nilai-nilai positif yang telah hidup dan berkembang dalam kebudayaan lokal.

ADVERTISEMENT

“Pancasila dan UUD 1945 membutuhkan penguatan dari akar rumput melalui kebudayaan lokal. Karakter manusia yang teguh tanpa angkuh dan ngeli tanpa keli, mampu mengarungi arus modernisasi tanpa kehilangan jati diri, adalah teladan ideal bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia ke depan,” pungkasnya.

Baca juga:  Dua Oknum ASN Tubaba di Tangkap Nyabu di Kabarkan Sudah Menghirup Udara Bebas.

Ia pun mengajak masyarakat untuk terus menggali, melestarikan, sekaligus mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kearifan lokal di berbagai daerah.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui seremoni atau sekadar menjaga tradisi, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sosial dan kehidupan bermasyarakat. Dengan cara tersebut, kearifan lokal dapat terus menjadi bagian dari upaya merawat Empat Pilar Kebangsaan sekaligus memperkuat karakter bangsa.

Siti berharap nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat dapat menjadi energi positif untuk membangun Indonesia yang semakin kuat, berdaulat, berkarakter, serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PoweredBy:Neverhide™